AS Gertak Kanada
- REUTERS/Mathieu Belanger
VIVA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim perusahaan-perusahaan Kanada dengan cepat memindahkan kegiatan usaha mereka ke AS di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara kedua negara bertetangga tersebut.
"Perusahaan-perusahaan Kanada berbondong-bondong masuk ke Amerika Serikat. Kami ingin membuat mobil sendiri dan sebagainya. Itulah yang akan terjadi," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social.
Ia menegaskan bahwa Kanada telah "merugikan kami selama bertahun-tahun" dan berjanji hubungan ekonomi kedua negara saat ini akan diubah secara mendasar.
Tidak diketahui secara pasti perusahaan Kanada mana yang telah memulai rencana relokasi atau berapa besar modal yang dipindahkan melintasi perbatasan.
Dalam unggahan terpisah, Trump, kemudian, secara langsung menyerukan kepada perusahaan-perusahaan yang saat ini beroperasi di negara tetangga tersebut, dengan mengeklaim banyak di antaranya pindah dari AS akibat kepemimpinan AS yang "bodoh".
"Biarkan semua perusahaan Kanada yang berbisnis dengan Amerika pindah ke Amerika Serikat, segera," tulisnya, seraya menjanjikan bahwa perusahaan yang melakukan relokasi tidak akan dikenai "tarif".
Ia menyebut Kanada sebagai "salah satu pihak yang paling banyak menyalahgunakan" AS dan mengatakan tidak lagi menginginkan kendaraan atau komponen Kanada berada di pasar AS.
Pernyataan Presiden AS tersebut menyusul penerapan tarif sebesar 50 persen terhadap barang-barang Kanada senilai US$20 miliar (Rp355 triliun) pada 22 Agustus serta arahan terbarunya untuk mengenakan tarif 50 persen terhadap seluruh mobil, truk, dan baja Kanada mulai 1 Januari 2027.
Donald Trump berpendapat bahwa langkah-langkah tersebut diperlukan untuk mengatasi defisit perdagangan yang mencapai lebih dari US$60 miliar (Rp1.065 triliun). Ia berulang kali mendesak produsen memindahkan kegiatan operasional mereka ke wilayah AS guna mendapatkan "tarif nol".
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menolak pendekatan AS tersebut, dengan menyebut tarif baru itu sebagai sebuah "salah perhitungan" dan upaya untuk "menyakiti dan memecah belah" Kanada.
Carney mengatakan Kanada "sedang berperang" dalam hal perdagangan dan mengumumkan akan memberlakukan tarif balasan terhadap impor AS senilai US$20 miliar (Rp355 triliun) mulai 8 September 2026.