Menyelamatkan Dokumen Bersejarah Pasca Bencana

Relawan di Tohoku University selamatkan dokumen bersejarah
Relawan di Tohoku University selamatkan dokumen bersejarah
Sumber :
  • Dokumentasi Uni Lubis

VIVAnews - Keempat perempuan itu mengenakan jas laboratorium berwarna putih, masker penutup hidung dan penutup kepala. Masing-masing menggunakan sarung tangan dan memegang sebilah pisau kecil. 

Pelan-pelan dan teliti mencoba mengurai lembar demi lembar sebuah dokumen berukuran satu kali satu setengah meter. Di bagian lain dari ruangan yang tidak terlalu luas itu seorang relawan tengah menyemprotkan air ke selembar dokumen setebal dua sentimeter yang nampak coklat dan diselimuti lumpur kering. 

“Bagian paling sulit adalah menghilangkan lumpur bekas air tsunami yang mengering, membuat dokumen-dokumen ini lengket dan sulit diurai.  Banyak diantaranya tak bisa diselamatkan karena dokumen sudah terbenam lumpur berbulan-bulan,” ujar Masashi Amano, Asisten Profesor di Tohoku University, Sendai, Senin siang (7/10)

Siang itu, tim relawan yang tergabung dalam kegiatan Miyagi Network for Preserving Historical Materials  tengah berupaya menyelamatkan sebuah dokumen bersejarah yang diduga kuat berasal dari era dinasti Edo, sekitar 800 tahun lalu. 

Dokumen ini menjadi salah satu dari ribuan dokumen yang diselamatkan tim relawan dari kawasan Ishinomaki, area terdampak bencana Great East Earthquake and Tsunami Maret 2011 yang mengguncang tiga perfektur, yakni Miyagi, Iwate dan Fukushima.  Universitas Tohoku terletak di Sendai, ibukota Miyagi.

Kegiatan penyelamatan dokumen bersejarah telah dilakukan sejak 10 tahun lalu di universitas ini. Masashi Amano dan koleganya bertugas di bagian International Research Institute of Disaster Science Human and Social Response Research Division Preservation of Historial Materials.

Terkubur Lumpur

Pasca bencana besar yang dikenal dengan sebutan tragedi 3.11 itu, pekerjaan  meningkat pesat. Ratusan ribu dokumen terkubur lumpur. Penyelamatan membutuhkan ratusan relawan. 

Mereka datang dari kalangan mahasiswa, pelajar, profesional dan bahkan ibu rumah tangga yang khusus menyediakan waktu untuk menyelamatkan  catatan sejarah.  “Sebagian dimiliki oleh individu, sebagian diselamatkan dari kantor, museum sampai sekolah. Semua kami perlakukan sama,” kata Amano.  Menurut dia, dokumen hari ini akan menjadi sejarah 10-20 tahun ke depan.

Proses penyelamatan dilakukan manual.  Dokumen yang telah mengering, bahkan mengeras seperti batu, disemprot air. Lumpur dikikis secara hati-hati.  Penyemprotan dengan etanol juga dilakukan.

Lalu lembar demi lembar dikupas. Lembaran kertas yang berhasil dibersihkan lantas difoto, dipindai. Tim menciptakan perangkat foto yang menggunakan kamera yang biasa digunakan sehari-hari.  “Sengaja metode ini kami gunakan agar bisa dikembangkan oleh siapapun yang berniat sama. 

Penyelamatan adalah kerja besar dan berjangka panjang,” kata Amano. Jadi, selain menyelamatkan dokumen asli, pihaknya juga menyimpan secara digital untuk arsip.

Selain dokumen seperti buku tahunan sekolah, catatan surat pribadi, tim ini menyelamatkan sejumlah lukisan  bersejarah yang bernilai tinggi, karya pelukis di era dinasti Edo, Kokan Shiba (1747-1818). 

Sejarawan telah meneliti temuan ini dan menyatakan lukisan itu asli. Tahun lalu, setahun setelah bencana 3.11 terjadi, tim penyelamat dokumen bersejarah ini mengadakan pameran.  Ribuan orang datang memberikan apresiasi. 

Sebagian merasa terbantu karena dokumen keluarga mereka berhasil diselamatkan. Bencana telah memporak-porandakan hidup mereka yang menjadi korban. 

Banyak nyawa hilang, tak terbilang pula bangunan. Dokumen yang berhasil diselamatkan menjadi catatan sejarah peradaban manusia yang pernah ada di kawasan terkena bencana.

Uni Z. Lubis, Pemimpin Redaksi ANTV yang tengah mengikuti East West Center Journalism Fellowships on Disaster Management and Resiliency.