Amerika Puncaki Peringkat Teratas Penembakan Massal di Dunia
Jumat, 28 Agustus 2015 - 11:09 WIB
Sumber :
- REUTERS/Chris Keane
VIVA.co.id - Seorang kriminolog dari Universitas Alabama, Adam Lankford, menyebut Amerika Serikat menjadi negara teratas dalam hal jumlah penembakan massal yang terjadi dalam 50 tahun terakhir.
Berdasarkan hasil studi yang dipaparkan pada pekan ini di pertemuan tahunan Asosiasi Sosiolog Amerika, terdapat 291 kejadian penembakan massal di seluruh dunia yang berhasil mereka catat antara tahun 1966 dan 2012.Â
Dikutip dari laman Yahoo News, Kamis, 27 Agustus 2015, sebanyak 90 kejadian atau 31 persen di antaranya terjadi di Negeri Paman Sam. Sementara itu, di peringkat kedua diduduki oleh Filipina dengan 18 kejadian penembakan.Â
Di bawahnya terdapat Rusia dengan 15 kejadian penembakan, 11 penembakan di Yaman, dan 10 aksi serupa di Prancis. Kemudian, banyak yang bertanya mengapa begitu banyak terjadi kejadian penembakan massal di AS? Dalam analisis Lankford, terdapat beberapa faktor.Â
Pertama, tingginya rating tingkat kepemilikan senjata. Kedua, mengidolakan beberapa pelaku penembakan massal di AS dan terakhir, sisi gelap eksepsionalisme Amerika.Â
Faktor unik yang mendorong banyaknya aksi penembakan massal di AS, menurut Lankford, karena kebudayaan membawa senjata di sana. Berdasarkan data yang dikutip dari hasil studi, ada sekitar 88,8 senjata api per 100 orang yang bermukim di AS. Data itu dikutip tahun 2007.Â
Angka itu bahkan lebih tinggi dari kepemilikan senjata oleh warga di Yaman yakni 54,8 senjata api per 100 orang.
"Karena tingginya rating kepemilikan senjata api di dunia, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari Amerika. Maka tak heran jika faktor itu terkait tingginya persentase penembakan massal," papar Lankford.Â
Selain itu, pelaku penembakan massal di AS 3,6 kali memiliki senjata untuk melindungi diri mereka sendiri. Bahkan, mereka memiliki beberapa senjata dalam melakukan aksinya.Â
Faktor lainnya yang ditulis oleh penulis buku berjudul: "The Myth of Martyrdom: What Really Drives Suicide Bombers, Rampage Shooters, and Other Slef-Destructive Killers" yakni para pelaku ingin menjadi tenar. Obsesi kebudayaan warga AS terhadap ketenaran jelas memainkan sebuah peran.Â
"Ketenaran dianggap sebagai sebuah penghormatan dari orang lain dan trennya cenderung meningkat. Beberapa pelaku penembak massal menyerah dalam delusi yang buruk dan mencari popularitas dengan cara membunuh," kata dia.Â
Halaman Selanjutnya