Dialog Muslim Inggris-Indonesia Bahas Ekstremisme
- Istimewa
“Karena itu kami perlu saling bertukar pengalaman tentang Islam dan perdamaian. Di Indonesia, kami mendiskusikannya dan juga bekerja sama dengan kelompok agama lain,” ujar Abdul Mu’ti.
Akeela Ahmad, anggota Christian-Muslim Forum mengatakan, seringkali media membesar-besarkan hal-hal yang tidak esensial, padahal solusinya adalah aksi bukan hanya bicara.
“Wanita Muslim di Inggris perlu mendapatkan perhatian karena Islam masih dipahami secara sangat ideologis. Ini agar orang-orang Inggris menghormati Islam, terutama perempuan Muslim,” ujar aktivis Muslim perempuan ini.
“Banyak hal yang perlu diberikan perhatian seperti kerja sama antara perempuan Muslim dan perempuan dari agama lain, pernikahan yang dipaksakan oleh orang tua dan lain sebagainya,” kata dia.
Sementara itu, Yayah Khisbiyah, direktur Program CDCC, menambahkan bahwa berbicara tentang pendidikan multukultural di Indonesia perlu mendesain kurikulum yang mendukung ke arah sana. “Kita dari waktu ke waktu juga membuat evaluasi mengenai capaian-capaian, terutama dalam hal kolaborasi dengan kelompok minoritas,” ujar Yayah.
Mohammed Abbasai, co-director of Association of British Muslims, menggarisbawahi bahwa kerja sama antar umat beragama tidak selalu harus bicara soal agama.
“Salah satu metode yang kami lakukan untuk mendekatkan kelompok Muslim di Inggris dengan kelompok lain adalah melalui olahraga, dalam hal ini sepakbola. Kami sangat menentang ekstremisme dan mendorong pluralitas agama, karena itu kami perlu banyak belajar dari Indonesia yang begitu kaya dengan keberagamaan,” imbuhnya.
Sementara itu, Alpha Amirrachman, direktur eksekutif CDCC mengatakan bahwa dialog ini hendaknya tidak terbatas hanya pada diskusi. Tapi, perlu diterjemahkan secara lebih konkret dalam bentuk kerja sama.
“Perlu lebih banyak warga Muslim Inggris yang datang ke Indonesia untuk melihat bagaimana mayoritas Muslim berinteraksi dengan kelompok minoritas, perlu juga warga Muslim Indonesia untuk ke sana untuk melihat bagaimana kelompok Muslim sebagai minoritas berinteraksi dengan mayoritas non Muslim,” tuturnya.