Berusia 369 Tahun, Wihara Glodok Dipercaya Beri Keberuntungan

Sejumlah warga sedang berdoa di Vihara, Petaksembilan di Glodok.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Fajar GM

VIVA – Wihara Dharma Bakti di Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, dipercaya oleh masyarakat Tionghoa, sebagai salah satu tempat sembahyang yang bisa memberi keberuntungan besar.

Harapan Jusuf Hamka di Imlek 2023: Tahun Politik Jangan Panas-panas

Cua Sin Kiong (59) yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyampaikan hal itu, karena wihara tersebut telah berumur begitu tua, 369 tahun pada 2019.

"Wihara itu, semakin tua semakin bagus. Wihara yang ini usianya sudah lebih dari 365 tahun," ujar Kiong, ditemui di sela-sela sembahyang Imlek di lokasi, Senin 4 Februari 2019.

Tanpa PPKM, Begini Suasana Imlek di Vihara Dharma Bhakti Petak Sembilan

Menurut Kiong, hal itu juga menjadi sebab Wihara Dharma Bakti menjadi salah satu wihara yang paling banyak dikunjungi di Jakarta setiap tahun baru Imlek.

"Yang datang ke sini, dari mana-mana. Ada yang dari Palembang juga. Ada yang datang sekeluarga, ada yang datang perorangan," ujar Kiong.

5 Kuliner Khas Cap Go Meh 2022 dan Makna yang Ada di Dalamnya

Adapun, Kiong menyampaikan, masyarakat Tionghoa selalu berdoa ke dewa-dewa mereka melalui wihara setiap tahun baru imlek. Doa dipanjatkan dengan membakar tiga batang hio, menanamnya di depan dewa yang hendak dipanjatkan doa, lantas mengucap doa dengan khusuk.

"Doanya macam-macam, ada yang mendoakan teman, berdoa untuk sendiri, mohon pertolongan. Tapi doa yang paling umum dipanjatkan saat Imlek itu banyak rezeki dan sehat," ujar Kiong.

Wihara Dharma Bakti sendiri terdiri dari banyak ruangan berdoa yang dikhususkan bagi dewa-dewa tertentu. Ada juga ruangan besar untuk berdoa kepada Budha, dan ruangan terpisah untuk berdoa kepada Dewi Kwan-In.

Sementara itu, di halaman tengah wihara, masyarakat Tionghoa juga melakukan sejumlah kegiatan. Salah satunya melepas burung yang merupakan simbol membuang segala macam penyakit yang diderita pada tahun lalu.

"Melepaskan burung itu supaya hilang sakitnya. Setelahnya, orangnya tidak boleh makan burung juga," ujar Kiong. (asp)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya