Senja Kala Jalan Jaksa
- vivanews/Eduward Ambarita
VIVA – Penghargaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu terpampang dalam pigura cokelat. Noda mewarnai di bagian bawah piagam tersebut. Ditandatangani Gubernur Ibu Kota, Surjadi Soedirja pada tahun 1995, Adikarya Wisata itu diberikan untuk Hostel Djody. Penginapan yang berlokasi di Jalan Jaksa, Jakarta Pusat itu meraih penghargaan atas pengabdian dalam pengembangan pariwisata.
Dibangun di lahan seluas 1.300 meter, menurut pengelola Hostel Djody, Herry Blaponte, penginapan itu berdiri ketika para mahasiswa asal Belanda mengikuti pendidikan untuk menjadi Jaksa di era tahun 1950-an. Nama Hostel Djody diambil dari nama anak Munir Darwis, pemilik hostel itu. Â
Di era 90-an, 'hotel melati' itu berada di kejayaannya. Menurut Herry Blaponte, ketika itu dari 60 kamar yang ada banyak terisi. Tak hanya Hostel Djody, penginapan lain pun di kawasan Jalan Jaksa banyak pengunjung.
Ponte yang sudah bekerja di Hostel Djody selama 31 tahun, ingat betul ketika itu para wisatawan asing berseliweran di Jalan Jaksa. Di masa kejayaan dulu pula, kata Ponte, nama Jalan Jaksa terdengar sampai seluruh dunia.
![]()
Segendang sepenarian. Boy Lawalata, pemilik Wisma Delima, mengungkapkan hal senada. Pada masa kejayaannya, Wisma Delima di era 80- an banyak tamu datang dari wisatawan asal Eropa. Hampir 14 kamar yang ada selalu terisi.
Kini, geliat wisatawan di Jalan Jaksa telah berubah. Jalan sepanjang 400 meter itu tak lagi ramai para pelancong. Saat ini, dengan tarif menginap di Wisma Delima Rp100 ribu per hari, tamu yang datang paling banyak hanya empat kamar terisi. "Itu pun wisatawan masih langganan dulu," katanya saat dihubungi VIVAnews, Senin 23 Desember 2019.
Sepi pengunjung juga dialami Hostel Djody. Dari 60 kamar dulu, saat ini tinggal 25 kamar di penginapan itu. Berkurangnya kamar di sana, lantaran sebagian lahan dibangun Hotel Dafam. Jumlah pengunjung menurun drastis. "Sehari sekarang paling kita istilahnya Dji Sam Soe mas, 2, 3, 4 kamar terisi sudah bagus," kata Ponte, ketika ditemui, Kamis 19 Desember 2019.
Sekarang, wisatawan asing yang singgah ke Hostel Djody, dengan tarif hotel mulai dari Rp100 ribu hingga Rp180 ribu per hari, bisa dihitung jari selama setahun. Adapun wisatawan lokal hampir sama. Mereka datang ke penginapan itu hanya sebagai transit sementara. Para tamu itu pun yang sudah kenal dengan mereka 20 tahun lebih. Di antaranya datang dari Australia, Belanda. Mereka rutin datang tiga hingga empat kali dalam setahun.