Seringnya Data Kebencanaan BPBD dan Basarnas Berbeda, Kenapa?

Tim BNPB meninjau lokasi yang terkena bencana alam di Lebak, Banten.
Sumber :
  • VIVAnews/ Yandi Delastama.

VIVA – Akurasi data dalam kebencanaan sangat penting sebagai bahan untuk menentukan strategi dalam menangani sebuah bencana. Namun kali ini, BPBD Banten memiliki data berbeda dibandingkan dengan pihak Kepolisian dan Basarnas Banten.

img_title 520 Rumah Rusak akibat Puting Beliung di Bandung Barat

Seperti data korban jiwa dan hilang, pelaksana tugas (PLt) BPBD Banten menyatakan bahwa korban meninggal 10 jiwa. Namun data yang dikirimkan ternyata tercatat delapan korban jiwa dan satu korban hilang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sedangkan menurut Basarnas dan pihak Kepolisian, korban jiwa berdasarkan jenazah yang sudah ditemukan berjumlah sembilan orang dan hilang dua orang.

img_title BPBD: Asap Karhutla Belum Sampai Bali

Perbedaan data ini lantaran tidak adanya crisis centre sebagai posko terpadu yang seharusnya dibuat oleh BPBD Banten di dekat lokasi bencana. Crisis centre di dekat lokasi bencana seperti saat tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 lalu mempercepat proses pendataan dan tanggap darurat bencana lebih terpadu.

"Sebenarnya crisis center pun kita ada, tapi tidak di lapangan (lokasi bencana), kita gunakan crisis center penghubung namanya di posko pengungsian di GSG (Gedung Serba Guna) di Lebak Gedong, namun (data) dibuatnya di sini oleh kita (BPBD). Dikirim ke kita, dibuat di sini di Pusdalops," kata Kepala BPBD Banten, Kusmayadi saat ditemui di kantornya usai menggelar rapat penanganan bencana, pada Rabu petang, 9 Januari 2020.

img_title Kantor BPN Karawang Hangus Terbakar

Kepala Inspektorat Provinsi Banten ini pun membandingkan penanganan bencana tsunami selat Sunda dengan banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Lebak. Saat tsunami senyap menerjang pesisir Banten, pemprov diklaimnya banyak terjun ke lapangan. Namun untuk musibah di Kabupaten Lebak, dalam bahasanya, menggunakan pendekatan kedaerahan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi kalau berbeda memang pasti berbeda penanganannya, pendekatannya. Waktu tsunami kemarin kan lebih besar lagi, yang ini kan bukan berarti tidak besar, tetapi memang kita lakukan berdasarkan pendekatan kedaerahan," terangnya. 

Saat penanganan bencana tsunami tahun 2018 lalu proses evakuasi korban dilakukan sejak pagi hingga sore hari. Lalu malamnya melakukan rapat bersama antara relawan, Pemkab Pandeglang, Pemprov Banten, kepolisian, TNI, Basarnas hingga perwakilan masyarakat untuk mendengarkan laporan dari setiap koordinator. Kemudian laporan tersebut dijadikan sebuah data dan bahan untuk penanganan bencana di hari esoknya. Begitu terus yang dilakukan selama proses tanggap bencana tsunami selesai.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut