- NCE/Banten
VIVAnews - Kegiatan ilegal di areal Stasiun Besar Rangkasbitung, diduga kuat menjadi penyebab kebakaran yang menghanguskan 22 gerbong kereta di kawasan itu. Setiap malam akitivitas ilegal ini menggunakan penerangan dengan lilin.
Sejumlah saksi mata mengatakan kalau api pertama kali terlihat dari bagian bawah kereta yang berada di peron empat yang kemudian menjalar ke gerbong 3 dan 5.
Menurut Junaedi (28) malam itu sejumlah warga yang sedang berada di stasiun sempat melakukan pemadaman dengan alat seadanya. Tapi api cepat membesar dan membakar hampir seluruh gerbong yang ada di stasiun itu.
Api baru dapat dipadamkan sekitar pukul 03.20 WIB, setelah petugas pemadam kebakaran dan warga berjibaku memadamkan api dengan empat mobil pemadam.
Sementara itu menurut warga bernama Hartati, gerbong kerata api yang parkir di Stasiun Besar Rangkasbitung memang selalu digunakan untuk praktik prostitusi. Banyak pekerja seks komersial dan gelandangan yang berkumpul di kawasan itu. Mereka memakai lilin sebagai alat penerangan.
"Mereka selalu pakai gerbong kereta," ungkapnya.
Sejumlah tokoh masyarakat dan agama di sekitar stasiun pernah juga melayangkan surat protes kepada Kepala Stasiun Besar Rangkasbitung, Suratman, terkait praktik prostitusi di dalam gerbong kereta.
Sejauh ini belum ada keterangan resmi dari PT KAI. Kepala Stasiun Suratman juga tidak mau dikonfirmasi terkait kejadian ini. "Nanti saja menunggu Humas Daops III yang akan memberikan keterangan pers," ujarnya.
Sementara Kasat reskrim Polres Lebak, AKP Eko Widiantoro, menyatakan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab terbakarnya gerbong kereta api tersebut dan masih meminta keterangan dari beberapa orang saksi mata.
"Masih dalam rangka lidik. Sementara untuk memastikan penyebab kebakaran, kita akan mendatangkan tim dari Puslabfor Mabes Polri,” ujarnya.
Laporan: Nce| Serang, Banten