Polda Metro Punya Cara Deteksi Pelat Nomor Palsu

Kepala Polda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Moechgiyarto, di Markas Kepolisian Resor Kota Depok pada Selasa, 21 Juni 2016.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Zahrul Darmawan

VIVA.co.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat kebijakan “pelat ganjil genap” sebagai pengganti three in one. Menjelang penerapan aturan itu pada Agustus nanti, pembatasan kendaraan dengan sistem pelat ganjil-genap masih memiliki banyak kelemahan. 

Sistem Ganjil Genap Suburkan Bisnis Pembuatan Pelat Palsu?

Selain pengawasan yang manual, kebijakan ini juga rawan menimbulkan kasus baru, seperti pemalsuan pelat nomor. Meski begitu, Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Moechgiyarto mengatakan, pihaknya punya cara-cara untuk mengantisipasi hal itu.

"Enggak akan sulit. Nanti kan akan bisa melihat, secara kasat mata. Oh berarti ini ada, kita bisa gunakan foto jepret kalau jarak jauh. Kalau dekat bisa kita hentikan langsung ditilang. Mudah menurut saya," ujar Moechgiyarto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Rabu 22 Juni 2016.

Mulai Pekan Depan, Pelanggar Ganjil Genap Kena Sanksi

Kelemahan lainnya, yakni ketika pemilik kendaraan menggunakan pelat bodong untuk menghindari sistem ganjil-genap ini. 

Namun, kata Miechgiyarto, petugas di lapangan bakal mengetahui mana pelat asli dan mana pelat palsu.

Mobil Mahal Ditukar Jadi Dua, Satu Pelat Ganjil Satu Genap

"Kan standar pelat dari kita sudah ada pelatnya. Dari awal kita pelat yang tidak standar saja sudah ketahuan, jadi kalau dia mau buat pelat asal-asalan ketahuan bisa kita tindak," ujarnya.

Selain itu, sistem ganjil-genap ini nampaknya tidak berpengaruh bagi orang kaya yang memiliki mobil lebih dari satu. 

Namun, menurutnya, hal itu bisa diatasi dengan penerapan pajak progresif bagi pemilik kendaraan lebih dari satu.

"Kalau mobilnya lebih dari satu berarti pajaknya banyak. Pemasukan dari pajak itu pemasukan pemerintah jadi banyak juga. Pajak progresif, menahan orang untuk konsumtif tadi membeli banyak kendaraan, itu kan sudah ada upaya yang kita lakukan, bahkan pajak progresif sekarang ini tidak didasarkan kepada nama tetapi didasarkan kepada alamat itu luar biasa," ucapnya.

Menurutnya, upaya pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap tidak akan sia-sia. 

"Lho tidak (sia-sia). Kan tidak seluruhnya melakukan kayak begitu. Daripada tidak sama sekali tidak kita atur, akan jadi crowded nah sekarang kita atur kira-kira ada perbaikan tidak. Kalau saya pikir akan ada perbaikan," ujar dia.

(ren)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya