Pilkada DKI 2017

Kemana Para Kader Parpol di Pilkada DKI 2017

Basuki Thahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Sejak tahun 2009, Ahok merupakan anggota Komisi II DPR RI. Ia duduk di kursi dewan lewat Partai Golkar. Namun kemudian mengundurkan diri pada tahun 2012, lantaran ikut berlaga dalam Pilkada DKI Jakarta bersama Jokowi.

img_title Pramono Mau Renovasi Kalijodo: Legacy Peninggalan Ahok

Saat itu, Basuki memilih lewat perahu Partai Gerindra. Dan terbukti berhasil memenangkan kursi perolehan suara dengan meraup suara 53,82 persen. Saat itu, PDIP dan Gerindra pun naik pamor. Dua partai ini juga yang akhirnya memiliki kursi lebih banyak di DPRD DKI. PDIP sebanyak 28 kursi dan Gerindra dengan 15 kursi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan kini, setelah menggantikan Jokowi sejak 2014. Praktis Ahok memang bukan kader parpol manapun. Bahkan meski kini telah dipinang sebagai calon Gubernur DKI untuk tahun 2017 lewat PDIP, Ahok tetap tidak mau masuk PDIP.

img_title Di HUT Demokrat, AHY Titip Salam ke Megawati Lewat Puan

Ahok dan Djarot Daftar ke KPUD

FOTO: Megawati Soekarno Putri, Basuki Thahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat

img_title Rumahnya Diselimuti Abu Vulkanik, Anies Baswedan Bagikan Tips Penting untuk Warga

"Enggak. Enggak pernah (jadi kader) dari dulu. Dari tahun 2003 juga sudah diminta jadi kader (PDIP)," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu 21 September 2016.

Lantas kemana para kader parpol saat pilkada DKI 2017 kali ini? Menurut Direktur Eksekutif Political Communication (PolComm) Institute Heri Budianto, kondisi ini memang menunjukkan buruknya proses kaderisai di parpol yang ada di Indonesia.

Tak cuma itu, parpol ternyata juga tak menyiapkan para pemimpin muda yang siap tarung untuk Pilkada. Alhasil, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan cara pintas.

Yakni menempatkan figur yang bisa dianggap populer dan bisa membantu mendongkrak nama parpol. "Partai politik minim menyediakan pemimpin muda berkualitas," kata Heri.

Idil Akbar, pengamat politik dari Universitas Padjajaran juga berpendapat serupa. Lemahnya parpol dalam menyiapkan calon pemimpin menjadi preseden buruk bagi parpol itu sendiri.

Jalan pintas menggunakan orang nonkader yang populer telah menjatuhkan citra parpol. "Partai kebanyakan hanya berorientasi yang penting menang, meski yang didukung bukan kadernya sendiri," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lalu apa kata petinggi parpol soal figur nonkader yang kini bermain di Pilkada DKI 2017?

"Soal pengalaman tidak pernah ada yang bisa dinilai dari orang baru karena memang belum pernah menduduki jabatan dalam birokrasi. Tetapi seseorang yang baru adalah suatu harapan, harapan Jakarta untuk rakyat itulah yang akan kami berikan kepada warga Jakarta," kata Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Romahurmuziy menjawab munculnya Agus Harimurti Yudhoyono.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut