IAIN Bukittinggi Larang Dosen Mengajar Pakai Cadar

Ilustrasi perempuan bercadar.
Sumber :
  • Repro Instagram

VIVA – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, mengeluarkan sebuah surat teguran tertulis bagi seorang Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan atas nama Hayati Syafri.

img_title Kisah Perempuan Bercadar Pelihara 70 Anjing yang Ditentang Ormas

Surat dikeluarkan pada 6 Desember 2017 yang ditandatangani oleh Nunu Burhanuddin yang tak lain merupakan dekan fakultas itu, berisi tentang peringatan terhadap Hayati untuk berpakaian di dalam kampus sesuai dengan kode etik dosen IAIN Bukittinggi. Hayati diketahui belum lama ini, bekerja dan mengajar di kampus itu menggunakan cadar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala Biro IAIN Bukittinggi Syahrul Wirda menyebutkan, selain menggunakan cadar tidak sesuai dengan aturan dan kode etik kampus IAIN Bukittinggi, dosen yang bersangkutan diminta melepaskan cadar ketika mengajar di kelas bermula dari adanya desakan dan keluhan mahasiswa.

img_title Dipecat, Dosen Bercadar IAIN Bukittinggi Banding ke BKN

"Permintaan kampus lepas cadar berawal dari keluhan mahasiswanya. Ya, itu saja. Kan enggak nampak sebagai guru. kalau diminta foto juga kan enggak nampak siapa-siapa orangnya. Dia bercadar itu belum lama," kata Syahrul, Selasa malam 13 Maret 2018.

Aturan dan kode etik berpakaian lanjut Syahrul, berlaku tidak hanya untuk dosen saja, namun juga untuk mahasiswa. Jika tetap ada yang masih memakai cadar, maka pihak kampus akan menerapkan cara persuasif dengan meminta kepada mereka untuk menaati aturan.

img_title Ketika Cadar Bukan Lagi Impian

Syahrul menambahkan, selama ini yang diterapkan kampus IAIN Bukittinggi adalah pakaian yang Islami. Longgar dan tidak sempit, dan bukan juga baju tidur. Hal ini agar proses pendidikan berjalan dengan baik.

"Enggak semua mahasiswa kita senang diajar dosen bercadar. Nanti demo pula mereka."

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Syahrul juga menegaskan, jika persoalan ini berbeda dengan kasus di Yogyakarta yang pada akhirnya aturan tersebut dicabut. Yang dicabut di UIN kata Syahrul, adalah pembinaan terhadap orang yang bercadar. Karena ada kekhawatiran disusupi hal-hal lain. Namun, di Bukittinggi tidak ada kekhawatiran tentang itu. Dan ini murni imbauan saja.

Selain itu kata Syahrul, masyarakat juga belum terbiasa dengan pakaian seperti itu. Dan lagi cadar bukan satu-satunya pakaian Islam. Kalau dibandingkan dengan Arab, barangkali kondisi Arab panas. Pendapat ulama, juga ada yang wajibkan ada yang tidak.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut