Guru Tampar Murid di Purwokerto, Polisi Periksa Saksi

Ilustrasi penganiayaan.
Ilustrasi penganiayaan.
Sumber :
  • www.pixabay.com/bykst

VIVA – Kepolisian Resor Banyumas telah menerima laporan orangtua terkait kasus guru diduga menampar murid di Purwokerto, Jawa Tengah. Polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap para saksi untuk mendalami kasus tersebut.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Komisaris Besar Polisi Agus Triatmaja mengatakan, laporan terkait kejadian penamparan yang sempat viral di media sosial itu dilayangkan oleh orangtua siswa.  "Dilaporkan di Polres Banyumas. Masih kami tindaklanjuti, " kata Agus saat dihubungi VIVA, Jumat, 20 April 2018.  

Kasus ini, lanjut Agus, langsung ditangani Polres Banyumas. Polisi memeriksa saksi-saksi yang melihat kejadian itu. Saksi merupakan para siswa SMK Ksatrian Purwokerto. "Pemeriksaan salah satunya teman-teman korban," ujarnya.

Menurut Agus, jika dari keterangan saksi telah lengkap, polisi akan memanggil oknum guru tersebut. Namun polisi belum menjelaskan kemungkinan guru tersebut ditetapkan sebagai tersangka. 

"Ini masih proses dengan mengumpulkan keterangan saksi. Nanti akan mengarah kesana (memeriksa pelaku)," ujarnya. 

Sebelumnya, video guru menampar siswa di Purwokerto viral di media sosial. Video berdurasi 29 detik itu menunjukkan seorang guru pria menampar murid laki-laki di dalam ruangan kelas. Guru itu diketahui berinisial LK.

Berdasarkan isi video itu, tampak murid berdiri di depan kelas menghadap guru. Selama beberapa detik, pipi murid itu dielus-elus tangan guru, sebelum akhirnya menerima tamparan hingga tubuh murid terhuyung ke belakang.

Suara tamparan cukup jelas terdengar. Siswa-siswa lainnya tetap duduk di bangku mereka masing-masing. Video insiden pemukulan itu disertai klarifikasi dari guru bahwa ia telah memukul muridnya.

Ia mengaku memukul beberapa murid. "Saya akan klarifikasi kalau sampai muncul video saya di media sosial. Ya, ini saya. Saya yang memukul mereka, dan ini semua korbannya," ujar guru itu di depan murid-muridnya.

Setelah itu, ia mempersilakan jika ada muridnya yang ingin balas dendam. "Saya tawarkan sama kamu kalau ada yang merasa dendam ke saya, saya terima. Barangkali ada yang merasa saya intimidasi dan terancam oleh saya," katanya.

Guru itu mengatakan, pemukulan dilakukan karena murid-muridnya sudah bersikap keterlaluan. "Tolong disadari, saya melakukan itu bukan karena tujuan. Saya pun dulu pernah merasakan dan saya dendam karena itu. Tapi saya ingin rasa sakit yang saya berikan sebagai pengingat karena kalian sudah keterlaluan.” (ren)