Asal Mula Nama Indonesia
- ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Ada pula yang menyebutnya Kepulauan Melayu. Lalu, saat Belanda menjajah kepulauan ini, namanya lebih dikenal dengan sebutan Hindia Belanda. Ketika pasukan pendudukan Jepang berkuasa selama 1942-1945, nama yang dipakai adalah To-Indo.
Semasa pendudukan Belanda, sejumlah kalangan pun mencarikan nama yang lebih tepat ketimbang Hindia Belanda. Eduard Douwes Dekker (1820-1887), pria asal Belanda yang dikenal dengan nama Multatuli dan terkenal dengan novel satir berjudul Max Havelaar, yang mengecam kesewenang-wenangan pemerintahannya atas rakyat pribumi di Hindia Belanda, sempat mengusulkan nama baru.
Bagi Multatuli, wilayah kepulauan ini lebih tepat dinamai Insulinde. Artinya, Kepulauan Hindia. Namun, nama ini kurang populer.
Cucu adik Multatuli itu yang justru membuat momentum baru beberapa puluh tahun kemudian. Dia adalah Ernest Francois Eugene Douwes Dekker, pria keturunan Belanda namun lahir di Pasuruan pada 1879 dan wafat di Bandung pada 1950, yang lebih dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi.
![]()
Ki Hadjar Dewantara, Ernest Douwes Dekker, dan Tjipto Mangoenkoesoemo (Tiga Serangkai) tahun 1914 saat diasingkan di Negeri Belanda (Sumber: Pranata (1959) Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia, Daerah Khusus Ibukota Jakarta: Balai Pustaka, p. 40)
Wartawan dan aktivis politik itu belakangan dikenal pula sebagai pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional. Setiabudi dikenal sebagai Tiga Serangkai - yang bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara mendirikan Indische Partij (Partai Hindia). Itu adalah partai politik pertama di Hindia Belanda, yang didirikan pada 25 Desember 1912.
Dalam bukunya, Harry mengungkapkan bahwa pada tahun 1920-an Setiabudi mempopulerkan nama untuk Tanah Air kita, yang tidak mengandung unsur kata “India” atau Hindia, yaitu Nusantara. Ini adalah istilah yang telah lama ada, namun tenggelam berabad-abad lamanya.
Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton. Itu naskah kuno zaman Kerajaan Majapahit yang ditemukan di Bali pada abad ke-19, lalu diterjemahkan oleh JLA Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada 1920. Sejak digaungkan kembai oleh Setiabudi itu lah nama nusantara terus menggema hingga kini selain Indonesia untuk menyebut negeri ini.