WeChat Pay Beroperasi di RI, LinkAja Buka Suara
- VIVAnews/Mohammad Yudha Prasetya
VIVA – Bank Indonesia telah memberikan persetujuan bagi pihak WeChat Pay dan bank CIMB Niaga, sebagai bank BUKU IV yang bekerja sama dengan WeChat Pay, untuk menggunakan sistem Quick Response Indonesian Standar atau QRIS.
Karenanya, dipastikan bahwa aplikasi penerbit uang elektronik asal China itu juga sudah masuk gelanggang, untuk bersaing dengan para kompetitor seperti OVO, Gopay, dan LinkAja.
Saat diminta pendapatnya terkait hal tersebut, Marketing Director LinkAja, Edward Kilian Suwignyo, mengaku pihaknya melihat hal tersebut bukan dari kacamata persaingan.
Sebab, menurutnya semua penerbit uang elektronik pengguna sistem QRIS ini sama-sama memiliki visi besar yang serupa, di mana nantinya tiap satu merchant bisa memiliki MID atau Merchant ID yang bisa terbaca oleh semua aplikasi.
"Jadi kalau buat kita, sebetulnya sih kita bekerja bersama-sama aja lah untuk mengetahui bahwa nanti ini format yang paling baik itu yang seperti apa," kata Edward di kawasan Central Park, Jakarta Barat, Rabu 15 Januari 2020.
Edward berpendapat, alih-alih mengedepankan aspek persaingan dalam segi bisnis, pihaknya lebih mengutamakan penyatuan visi dalam sudut pandang inklusi keuangan, agar semua ekosistem dari pemanfaatan uang elektronik ini bisa semakin baik ke depannya.
"Kita tahu visinya mau ke arah mana. Tapi kan secara operasional dan yang lain-lainnya, ini kan masih banyak yang harus didiskusikan," ujarnya.
Mengenai cakupan pasar dari LinkAja itu sendiri, Edward memastikan hingga saat ini pertumbuhan konsumen pengguna LinkAja juga semakin meningkat. Di mana, saat ini tercatat tak kurang dari 40 juta pengguna sudah aktif memanfaatkan platform LinkAja, sebagai alat pembayaran dalam bertransaksi.
"Secara data konsumen teregistrasi, konsumen kita itu sudah di atas 40 juta," kata Edward.
Terkait sebaran pengguna LinkAja, Edward mengaku konsumennya pun tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek saja. Melainkan, banyak juga konsumen LinkAja yang justru berasal dari luar wilayah Jabodetabek.
"Mayoritas konsumen kita justru ada di luar Jabodetabek. Khususnya di beberapa pulau seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan yang belum terlalu banyak di Kalimantan misalnya. Tapi bahkan di Sulawesi pun kita sudah masuk," kata Edward.