Ahli: Tingkat Kematian Perokok Terinfeksi COVID-19 Lebih Tinggi

Ilustrasi rokok (picture-alliance/dpa/APA/H. Fohringer).
Sumber :
  • dw

VIVA – COVID-19 bukanlah satu-satunya penyakit yang dihadapi masyarakat Indonesia. Masih ada penyakit menular lainnya seperti demam berdarah dengue, rabies, hepatitis, flu burung, hingga malaria, yang juga butuh penanganan serius.

Kenaikan Cukai Picu Turunnya Produksi Rokok dan Penerimaan Negara

Selain itu, masih ada risiko penyakit tidak menular seperti jantung, kanker, diabetes, juga masih dihadapi masyarakat Indonesia. Beberapa penyakit itu, selain membutuhkan biaya pengobatan yang mahal, juga dapat menghilangkan hari-hari produktif pasien dan keluarga yang merawat mereka.

Dokter spesialis jantung Vito Anggarino mengatakan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, risiko kematian COVID-19 lebih tinggi akibat adanya penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Hal ini berarti penyakit tidak menular bukan masalah ringan dan penanganannya juga membutuhkan bantuan dokter spesialis yang andal.

Aturan Tembakau RPP Kesehatan Dikritik, Aprindo: Rawan Pungli

"Perlu untuk memperhatikan risiko penyakit jantung, risiko penyakit pembuluh darah lainnya, bahkan risiko penyakit paru-paru selain COVID-19, sehingga orang yang masih merokok dan kurang aktivitas fisik, harus mengubah gaya hidup mereka agar lebih sehat. Jadi di masa depan, kalau kita memperhatikan COVID-19 saja, tanpa memperhatikan penyakit lainnya, bisa saja menjadi pandemi yang baru," kata Vito dalam dialog yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, yang dikutip pada Selasa, 10 November 2020.

Menurut Vito, salah satu gaya hidup yang bisa meningkatkan risiko penularan COVID-19 dan penyakit tidak menular lainnya adalah merokok. Selain seorang perokok harus melepas masker saat merokok, kebiasaan merokok beramai-ramai juga kerap tidak mengindahkan jarak yang aman.

Produsen Rokok Minak Djinggo dan Class Mild Siap Ekspansi di 2024

Ditambah lagi risiko virus yang masuk dari tangan yang memegang rokok pun masih ada. Lebih daripada itu, COVID-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru, sedangkan merokok merusak fungsi paru-paru dan menurunkan kekebalan tubuh.

"Saat perokok terinfeksi COVID-19, lebih susah memerangi virus ini. Bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat kematian dan keparahan yang lebih tinggi dibanding pasien COVID-19 yang bukan perokok," ujarnya.

Selain perokok, orang di sekelilingnya, atau yang disebut perokok pasif, juga dapat terkena dampaknya. Karena para perokok pasif ini adalah bukan penikmat rokok tapi terkena imbas dari asapnya yang terhirup secara tidak langsung.

"Walaupun memang yang paling berat adalah perokok itu sendiri, karena pada asapnya itu ada sel-sel radang yang menyebabkan kemampuan pertahanan tubuh kita berkurang. Sehingga saat terinfeksi virus dan penyakit-penyakit lain, lebih gampang terserang," tuturnya.

Baca: Kolom Prof Tjandra Yoga: COVID-19, Dapatkah Terinfeksi Berulang?

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya