Alasan Analis Kebijakan Perlu Mengambil Peran Penting Versi LAN
- LAN
VIVA – Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) Adi Suryanto, menegaskan bahwa Analis Kebijakan (AK) sangat penting karena keahliannya diperlukan dari mulai tahap perumusan masalah hingga evaluasi kebijakan. Terlebih kualitas suatu pemerintahan sendiri diukur dari Indeks Kualitas Kebijakan (IKK)-nya.
Menghadapi tantangan situasi VUCA saat ini, AK dituntut untuk terus menerus belajar dan memperluas khasanah wawasan di tengah situasi birokrasi yang semakin kompleks ini. Hal tersebut diungkapkan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN), Dr. Adi Suryanto, M.Si dalam pembukaan kegiatan Virtual Public Lecture seri pertama hasil kerjasama antara LAN dengan Tanoto Foundation yang mengangkat tema Konsep dan Studi Kebijakan Publik melalui Zoom Meeting, Kamis (1/4).
“Analis kebijakan memiliki peran strategis dalam birokrasi, melalui analisis kebijakan (AK) yang dibuatnya akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan yang berdampak besar dalam menentukan arah roda pemerintahan,” tambahnya.
Adi Suryanto juga memaparkan bahwa upaya meningkatkan government effectiveness index (GEI) atau indeks efektivitas pemerintahan terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 2009, GEI Indonesia berada pada 48,85% dan persentasenya terus menerus mengalami peningkatan, hingga dalam kurun waktu 10 tahun, pada 2019 GEI Indonesia telah mencapai 60,1%. Salah satu hal yang mendukung peningkatan tersebut ialah peningkatan indeks kualitas kebijakan (IKK) yang juga terus mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Peran yang begitu besar ini, harus diikuti oleh pengembangan kompetensi terhadap analis kebijakan juga” tegasnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Menteri Sekretariat Negara, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc., Sc. juga menekankan pentingnya kolaborasi dari seluruh jabatan fungsional yang ada agar menjadi sebuah ekosistem baru yang saling melengkapi dalam menunjang dalam upaya memecahkan masalah lintas sektor.
“Ketika seseorang bergeser dari pejabat struktural kepada pejabat fungsional, yang dibutuhkan tidak hanya penguasaan konten materi (content mastery) tetapi juga harus memiliki karakter sebagai pembelajar. Kita dihadapkan pada dunia yang terus berubah, hal ini perlu diimbangi dengan upaya mengembangkan diri agar dapat beradaptasi terhadap segala perubahan yang ada,” tambahnya.
Pratikno mengajak seluruh elemen untuk mereformasi ekosistem kerja secara besar-besaran. Ia menekankan bahwa perubahan harus berasal dari agennya juga sehingga ekosistem dan strukturnya juga harus dibenahi. “Kolaborasi menjadi kunci dalam upaya mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri dan berkeadilan,” tegasnya.