Hadiri Rakornas Pemuda Muhammadiyah, PDIP dan PAN Bicara Pemilu 2024

Sekjen PDIP dan PAN hadiri rakornas Pemuda Muhammadiyah
Sumber :
  • VIVA/Anwar Sadat

VIVA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, kerjasama PDI Perjuangan dengan PAN dan Pemuda Muhammadiyah memiliki legitimasi historis dan ideologis. Sebab kerjasama tersebut sama-sama memegang obor semangat keindonesiaan sejak awal.

img_title Kaesang Turun ke Depok, PSI Langsung Bidik 6 Kursi DPRD pada Pemilu 2029

"Jadi kalau cikal bakal PAN adalah Muhammadiyah, maka kerja sama kami dengan PAN dan Pemuda Muhammadiyah, punya legitimasi historis dan ideologis. Karena kita bersama yang memegang obor semangat keindonesiaan itu sejak awal," kata Hasto saat menjadi pembicara dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemuda Muhammadiyah bertema 'Konfigurasi Politik Pemuda Muhammadiyah Menyambut Pesta Demokrasi 2024', Minggu 2 Mei 2021

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam acara tersebut, hadir juga Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno dan pengurus Pemuda Muhammadiyah seluruh Indonesia, di Jakarta. Hasto mengatakan tidak ada pemilik tunggal republik karena Indonesia adalah negara gotong royong yang menjadikan rakyat sebagai satu-satunya pemegang legitimasi kekuasaan.

img_title Jokowi Jadi Magnet PSI, Target Tiga Besar Dibidik untuk Pemilu 2029

Menurut Hasto, sejak awal berdiri, gotong royong sudah nyata. Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), dan PNI sebagai representasi kelompok Nasionalis selalu bersama mempelopori Indonesia Merdeka.

Hasto juga berbicara terkait kondisi Indonesia yang sejak 1997-1998, kedaulatan politik negara berusaha dikontrol melalui "Letter Of Intent" IMF. Lalu terjadi juga reproduksi 'American Politics' di Indonesia dengan credo 'one man, one vote, dan one value' yang menggantikan demokrasi musyawarah.

img_title Langkah PPP Hadapi Verifikasi Parpol 2027 dan Pemilu 2029

Hal tersebut, kata Hasto, menyebabkan muncul berbagai dampak negatif yaitu terjadi konvergensi politik-hukum-kapital-pemilik media. Meningkatnya primordialisme, hingga konflik Pancasila melawan ideologi transnasional.

Situasi itu menurut Hasto, membuat Indonesia mundur dari kemajuan yang pernah terjadi sebelumnya. Saat era kepemimpinan Bung Karno, kekuatan Pancasila berhasil mendorong kemerdekaan bangsa Maroko, Tunisia dan Aljazair, serta dukungan penuh bagi Palestina dan Pakistan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Aljazair merdeka karena campur tangan Indonesia, apa kita tidak bangga? Tiba-tiba sekarang kita cuma melihat ke dalam, masalah di dalam negeri melulu, seakan terjadi konflik antara Pancasila dan Islam. Padahal dahulu, Pancasila justru memerdekakan negara dunia Islam," ujarnya.

Dia menambahkan "Kenapa tiba-tiba sekarang semuanya mikir ke dalam? Hanya berdansa untuk 2024? Dimana kekuatan kita untuk memerdekakan bangsa lain? Maka kita harus outward looking. Konflik Timur Tengah, Korea, Laut Tiongkok Selatan, harusnya kita yang campur tangan sebagai peace facilitator. Dengan Pancasila, dan politik kuar negeri bebas aktif Indonesia menjadi solusi bagi perdamaian dunia," kata Hasto

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut