Puncak Toleransi Warga Tengger, Berbeda Agama tapi Satu Adat
- VIVA.co.id/Lucky Aditya
"Selama orang Tengger ada kewajiban untuk mengikuti budaya itu, Yadnya Kasada, Karo maupun budaya lainnya. Juga mengirim sesajen, memberikan seserahan berupa hasil bumi. Saya muslim, saya asli Tengger," ujar Teguh.Â
Maju BersamaÂ
Saat ini Kelompok Tani Hulun Hyang memiliki 30 anggota semuanya warga Tengger. Terdiri dari 18 laki-laki dan 12 perempuan. Selain membudidayakan tanaman edelweiss, mereka juga membuat suvenir dari bunga edelweiss dan membangun kafe.Â
"Bagaimana edelweiss dikembangkan agar masyarakat tidak lagi mengambil di gunung. Karena edelweis ini dilindungi, tetapi edelweiss juga sarana upacara adat. Dulu edelweiss mengambil di kawasan dari dua faktor ini muncul gagasan pengembangan edelweiss di masyarakat. Berawal dari 7 orang kini 30 orang," kata Teguh.Â
Bagi pengunjung Taman edelweiss bisa menikmati hamparan tanaman bunga abadi sembari menikmati hangatnya kopi maupun teh. Pengunjung yang masuk harus membeli voucher di loket dengan harga Rp10 ribu. Nantinya, voucher itu dapat ditukarkan kopi atau teh di kafe.Â
Selain mendapatkan minuman, uang Rp10 ribu yang dibayarkan oleh pengunjung juga berkontribusi pada pembudidayaan bunga edelweiss di Wonokitri.
"Kami punya 850 batang tanaman edelweiss. Kunjungan [selama] Oktober [2021] 3.392 wisatawan, tertinggi selama pandemi. Omzetnya sekitar Rp50 juta satu bulan, pemasukan dari voucher dan kafe, dan souvenir edelweiss" ujar Teguh.Â
Â