Guru Rasis ke Siswa Papua di SMAN di Jember, Khofifah Turun Tangan

Khofifah bercengkrama dengan siswa asal Papua peserta program ADEM di
Khofifah bercengkrama dengan siswa asal Papua peserta program ADEM di
Sumber :
  • VIVA/Nur Faishal

VIVA – Seorang guru yang tidak disebutkan namanya di SMAN Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur melakukan tindakan rasisme terhadap siswanya yang berasal dari Papua. Usai kejadian itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pun langsung turun tangan ke sekolah tersebut. Sementara guru terduga rasis itu juga langsung ditindak.

Khofifah langsung mengunjungi SMAN Pakusari, Jember, pada Sabtu, 29 Januari 2022. Turut mendampingi Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi, Bupati Jember Hendy Siswanto dan Kapolres Jember AKBP Hery Purnomo. Hadir pula para kepala OPD di lingkungan Pemprov Jatim, Kepala SMAN Pakusari Jember Siswo Suryono, para guru dan murid SMAN Pakusari Jember yang merupakan peserta program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).

Untuk diketahui, jumlah siswa SMAN Pakusari berjumlah 837 orang. Kemudian gurunya berjumlah 48 orang dan tenaga kependidikan sebanyak 15 orang. 

Sedangkan jumlah siswa yang mengikuti program ADEM di SMA ini sebanyak enam orang yang terdiri dari empat siswa di Kelas 10 dan dua siswa di Kelas 11. Oknum guru itu diduga melakukan tindakan rasisme terhadap siswa peserta ADEM.

Khofifah mengatakan bahwa permasalahan rasistik di sekolah tersebut sudah selesai secara kekeluargaan. Oknum guru yang bermasalah tersebut telah mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Saat ini yang bersangkutan juga tengah menjalani sanksi yajbu dipindahtugaskan dari aktivitas belajar mengajar dari SMAN Pakusari.

"Insya Allah semua permasalahan sudah diselesaikan dengan baik dengan cara-cara kekeluargaan. Keduanya pun telah saling memaafkan," kata Khofifah dalam keterangan tertulis diterima wartawan pada Minggu, 30 Januari 2022.

Khofifah berharap, pada waktu ke depan permasalahan seperti itu tidak terulang lagi di sekolah yang ada di seluruh Jatim. Sekolah kata dia, sebagaimana mestinya memberi penguatan nilai-nilai  persatuan dan kesatuan. Terlebih Indonesia adalah negara yang majemuk yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, budaya, dan adat istiadat.

“Bagaimana pun persoalan seperti ini sebisa mungkin mesti diselesaikan dengan dialog yang teduh dan penuh kedamaian karena pada dasarnya semua adalah keluarga,” kata dia.

Sementara Kepala SMAN Pakusari Siswo Suryono mengungkapkan bahwa tindakan rasisme yang dilakukan oknum guru laki-laki itu terjadi pada Rabu, 26 Januari 2022. Hal itu dilakukan terhadap salah satu murid Kelas 8. Perbuatan guru tersebut menyinggung perasaan siswa yang dirundung.

Siswo namun enggan menyebutkan identitas oknum guru atau pun terkait detail dugaan rasisme dan menyatakan kasusnya sudah selesai. Dia menegaskan bahwa masalah tersebut telah selesai. 

“Antara guru dan murid sudah saling memaafkan. Intinya permasalahan selesai," ujarnya.