Menggandeng Pemulung Naik Kelas

Suasana di lapak pemulung di Cipadu, Tangerang Selatan.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Lis Yuliawati

Kegiatan belajar yang diinisiasi Siti Salamah di lapak pemulung di Tangerang Selatan.

Photo :
  • Dokumen Siti Salamah

img_title Astra Kasih Pelatihan UMKM Belajar Meracik Konten Perluas Pemasaran Produk

Wanita 33 tahun ini mencurahkan segalanya untuk para pemulung. Hingga ia pernah mengalami sakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan tifus. Namun, ada satu titik Siti enggan mengurusi soal pemulung. Dia merasa disakiti dengan sikap dan perkataan mereka. Siti lantas berhenti mengajar sekitar dua bulan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para pemulung menghubungi Siti dan meminta maaf. Mereka minta dia untuk kembali mengajar. Siti tergerak datang ke lapak pemulung. Sampai di sana, hatinya luluh ketika anak-anak pemulung menyambut dan memeluknya. Dia lantas mengajar lagi. “Aku mikir kalau bukan aku siapa lagi,” ujar ibu dua anak ini.

img_title Pagi-pagi Truk Sampah Hantam Separator Busway, Transjakarta Koridor 9 Sempat Dialihkan

Siti memperluas kegiatannya tak hanya untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. Untuk itu, dia membentuk komunitas Rumah Pohon. Taman Magrib Mengaji lantas dilebur ke dalam Rumah Pohon itu. Beragam kegiatan diadakan dalam komunitas tersebut, di antaranya mengaji, sharing berbagai persoalan, pemeriksaan kesehatan, kerja bakti, upacara, gebyar HUT Kemerdekaan RI. 

Saat ini, Siti mengatakan, Rumah Pohon menjadi bagian dari Waste Solution Hub (Wastehub), sebuah inovasi sosial yang fokus pada pengelolaan sampah dengan pendekatan ekonomi sirkular dan sistem teknologi terintegrasi.  

img_title Implementasikan ESG, Program Plastic Reborn Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

Pembentukan Wastehub bermula ketika Siti mengikuti program Youth Action Forum di Jakarta pada 2017. Kegiatan yang digelar United in Diversity itu mempertemukan 60 anak muda se-Indonesia. Dalam forum tersebut, Siti bertemu dengan Ranitya Nurlita. Siti yang fokus pada pemulung lantas berkolaborasi dengan Ranitya yang peduli soal lingkungan. Kemudian mereka membuat Wastehub pada 2018.

Wastehub menjadikan pemulung sebagai mitra. Dengan kehadiran Wastehub, kata Siti, pemulung diberdayakan. Menurut Chief Operating Officer (COO) Wastehub tersebut, selama ini pemulung kerap dipandang sebelah mata. “Dengan adanya Wastehub ini kita berharap pemulung naik levelnya. Jadi pemulung enggak diremehin lagi,” ujarnya.

“Dalam kegiatan yang melibatkan Wastehub, kita selalu bilang kita libatkan pemulung. Mau enggak mau mereka memandang pemulung seperti memandang kita. Jadi enggak dipandang sebelah mata lagi,” kata Siti menambahkan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Siti Salamah dan kawan-kawan saat kegiatan sosialisasi kepada para pemulung di Tangerang Selatan.

Photo :
  • Dokumen Siti Salamah

Adapun kegiatan dalam Wastehub, di antaranya pengelolaan sampah event dan cluster perumahan, pelatihan intensif pemulung. Pada pengelolaan sampah event misalnya, Wastehub telah menangani project penanganan sampah antara lain di Bali, Lombok, Tangerang Selatan. Banyak pemulung dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Mereka dibayar tergantung lamanya bekerja. “Kalau full day bisa dibayar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu,” ujar Siti.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut