Perang Suku Tewaskan 13 Orang di Wamena Dipicu Denda Adat Kecelakaan Anggota DPRD

Pencarian puluhan korban tenggelam di Sungai Uwe Wamena
Sumber :
  • Antara Foto

Wamena, VIVA – Fakta baru terungkap di balik pecahnya perang antarsuku yang menewaskan belasan orang di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

img_title Dedi Mulyadi Bawa Rp4 M untuk Korban Gempa NTT, Rumah Rusak Berat Dapat Bantuan hingga Rp20 Juta

Hal itu dissmpaikan Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Cahyo Sukarnito.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Polisi menyebut konflik berdarah itu dipicu persoalan denda adat buntut kecelakaan yang melibatkan anggota DPRD Lanny Jaya pada 2024 lalu.

img_title Korban Meninggal Gempa NTT Bertambah Jadi 91 Orang, 1.286 Terluka

Polda Papua mengungkap persoalan tersebut sempat berlarut-larut karena tidak adanya penyelesaian pembayaran denda adat kepada pihak yang merasa dirugikan. Kondisi itu kemudian memicu ketegangan antarkelompok hingga akhirnya pecah menjadi perang suku.

“Kalau ada hal seperti itu biasanya pemda turun tangan untuk menanggulangi, apalagi ini korbannya anggota DPRD kabupaten. Pada saat itu tidak ada penyelesaian karena memang waktu itu (kecelakaan) terjadi pemerintahan ini semuanya pejabatnya Pj, kan enggak bisa mengeluarkan anggaran untuk itu, jadi enggak terbayarlah, enggak sesuai lah ininya yang dirugikan," tuturnya, saat dihubungi, Senin, 18 Mei 2026.

img_title Selain Kebutuhan Pokok, Brantas Abipraya Pulihkan Akses Air Bagi Korban Gempa NTT

Menurut Cahyo, gesekan antarsuku sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Namun konflik terus membesar hingga akhirnya mencapai puncak bentrokan beberapa hari terakhir

"Terjadilah perang suku mulai saat itu. Biasanya cuma kecil-kecil, kecil-kecil begitu, sampai puncaknya ini, seperti itu," kata dia.

Cahyo mengklaim kondisi di Wamena kini mulai berangsur kondusif setelah dilakukan dialog dan penyekatan di sejumlah titik rawan konflik.

"Sekarang masa pemulihan, situasi sudah kondusif, kita tempatkan di tujuh titik personel itu untuk antisipasi menjaga sehingga disekat-sekatlah ibaratnya, penyekatan di tujuh lokasi," tutur Cahyo.

Bentrok maut itu melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma). Awalnya kericuhan terjadi di Distrik Woma, Jayawijaya pada Kamis, 14 Mei 2026, sebelum akhirnya meluas ke sejumlah wilayah lain hingga Jumat, 15 Mei 2026.

Akibat konflik tersebut, sedikitnya 13 orang dilaporkan meninggal dunia dan 19 lainnya mengalami luka-luka. Hal itu dibeberkan Kepala Seksi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Berdasarkan data update terbaru korban perang suku yang meninggal dunia 13 orang," tutur Efendi.

Dari total korban luka, tiga orang dilaporkan mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan di RSUD Wamena. Sementara luka ringan berjumlah 16 orang. Lalu, total 789 orang mengungsi.

Ilustrasi kebakaran

4 Orang Tewas, Polisi Gandeng Puslabfor Selidiki Kebakaran di Tebet

Polisi menyelidiki peristiwa kebakaran kosan dan tempat fotocopy di Jalan Rasamala II RT 06/RW 09 Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

img_title
VIVA.co.id
24 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut