RI Dinilai Perlu Transformasi Pelabuhan Internasional, dari Status Based Menuju Performed Based
- Istimewa
Keenam, Digital, Sustainable & Resilient Port, yang mencakup penerapan smart port, digitalisasi, dekarbonisasi, serta ketahanan pelabuhan menghadapi perubahan iklim.
Robby juga mendorong penerapan functional and network-based port hierarchy atau hierarki pelabuhan berdasarkan fungsi dan jaringan.
Dalam model tersebut, pelabuhan dapat dikelompokkan menjadi National Global Hub Port, International Gateway Port, International Specialized Port, International Supporting Port, serta Domestic Feeder & Consolidation Port.
Menurut dia, hierarki tersebut tidak boleh bersifat statis. Posisi setiap pelabuhan perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan kinerja, konektivitas, kekuatan hinterland, cargo base, serta kontribusinya terhadap perdagangan nasional.
“Indonesia tidak semata-mata membutuhkan lebih banyak pelabuhan berstatus internasional. Yang dibutuhkan adalah sistem pelabuhan yang tepat fungsi, saling terkoneksi, efisien, dan berbasis kinerja,” tegas Robby.
Ia menilai efektivitas pelabuhan juga tidak cukup diukur dari produktivitas dermaga atau dwelling time. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah sejauh mana sistem pelabuhan mampu menurunkan biaya logistik, memperkuat konektivitas langsung, meningkatkan daya saing ekspor, mengurangi ketergantungan terhadap transshipment, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global (global supply chain).
“Transformasinya adalah dari administrative designation menuju functional effectiveness. Dari pelabuhan individual menuju jaringan yang terintegrasi. Dan dari orientasi infrastruktur menuju daya saing perdagangan,” pungkasnya.