Arti "Maaf" Belanda Untuk Korban Rawagede

Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede
Sukarman, Ketua Yayasan Rawagede
Sumber :
  • VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis

VIVAnews - Kata "maaf" akhirnya bakal disampaikan secara resmi oleh Pemerintah Belanda, pada korban pembantaian Rawagede. Setelah 64 tahun berlalu.

Belanda sebelumnya mungkin ingkar. Namun keluarga korban tak akan lupa: kisah para lelaki yang dibantai diberondong senapan dari belakang, sungai yang merah dengan darah, tangis pilu janda dan anak-anak yang dengan tenaga seadanya berusaha menguburkan jasad-jasad yang bergelimpangan, serta tentang bau mayat yang menyengat selama berhari-hari tak bakal lekang dari ingatan.

Pada Senin 5 Desember 2011, Menteri Luar Negeri Belanda, Uri Rosenthal mengatakan, permintaan maaf tersebut adalah hal yang semestinya dilakukan. "Demi keadilan atas kejadian serius di Rawagede. Saya harap ini akan membuat keluarga terdekat korban bisa menutup episode berat dalam hidupnya, agar mereka bisa menatap masa depan," kata dia seperti dimuat Radio Netherlands.

Pemerintah Belanda diwakili Duta Besar untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan akan menyampaikan maaf secara langsung dalam peringatan yang akan digelar di Desa Balongsari, nama baru Rawagede.

Pembantaian Rawagede diyakini merupakan tindakan kriminal paling kejam, paling brutal, dan paling berdarah yang dilakukan Belanda dalam kurun waktu 1945 sampai 1949.

Kala itu, pada 9 Desember 1947, 300 tentara Belanda yang dipimpin Mayor Alphons  Wijnen, masuk ke Rawagede untuk satu tujuan: mencari dan menangkap Kapten Lukas Kustaryo, komandan kompi Divisi Siliwangi yang kerap membuat repot Belanda. Oleh prajurit NICA ia dijuluki 'Begundal Karawang'.

Dalam satu hari, 431 lelaki tewas. Namun, Belanda masih bersikukuh jumlah korban 'hanya' 150 orang.

Bagaimana reaksi penduduk Rawagede?

Dihubungi VIVAnews Senin malam, pemerhati sejarah, sekaligus Ketua Yayasan Rawagede, Sukarman mengaku lega. Keadilan telah ditegakkan. "Duta besar Belanda akan hadir dalam peringatan untuk minta maaf. Termasuk dari pihak kami adalah pengacara korban dari Belanda," kata dia.

Ia menambahkan, maaf sebelumnya juga pernah disampaikan Dubes Belanda pada 2008. Namun, itu bukan keputusan pemerintah. "Permintaan maaf kali ini adalah catatan sejarah yang berarti," kata dia. "Ini merupakan poin ke dua gugatan korban: permintaan maaf."

Sementara soal kompensasi terhadap keluarga korban, Sukarman mengaku menyerahkannya pada pihak pengacara.

Lalu, apakah warga Rawagede sudah mengetahui rencana permintaan maaf ini? "Belum tahu, baru kami yang mengetahuinya," kata dia.

Bagaimanapun, maaf Pemerintah Belanda adalah hasil perjuangan  delapan janda korban, satu di antaranya telah wafat. Juga korban langsung tragedi Rawagede, Saih Bin Sakam - yang tak sempat menikmati buah perjuangannya. Ia meninggal 7 Mei 2011 lalu.

Dalam usia renta, para korban berjuang, bahkan sampai negeri Belanda. Sebelumnya, September 2011, Pengadilan Den Haag memutuskan, Belanda bersalah. Ini adalah kemenangan ke dua bagi pihak korban. (adi)