Keputusan KPU Memilih ICR Vendor Driven
- Syaefullah/VIVA.
Nah, saya mengusulkan adanya e-procurement kepada KPU demi transparansi pengadaan logistik pemilu agar kejadian 2004 tak terulang lagi. Ini sudah saya usulkan sejak sekitar 2007-2008, namun, sayangnya pada saat itu Ketua KPU, menolak usulan itu.
Alasannya bahwa perusahaan-perusahaan kecil yang tidak memiliki teknologi informasi yang baik, tidak bisa menang, sementara perusahaan-perusahaan besar yang  sebenarnya dia bukan bergerak di bidang itu justru bisa menang.
Tapi sebenarnya tidak tepat seperti itu, karena sebenarnya ada mekanisme undangan secara terbuka, beauty contest, dan lain sebagainya.
Padahal dengan e-procurement, transparansi dan sistem administrasi bisa terpantau dengan baik. Peluang penyelewengan sangat kecil karena disitu tidak ada peluang kontak antara vendor dengan KPU.
Apalagi kita juga tidak bisa mengabaikan kondisi geografis masing-masing daerah di Indonesia. Kita juga memanfaatkan aplikasi Geographical Information System. Jadi kita bisa melakukan pengadaan logistik di Papua, dari perusahaan-perusahaan lokal terdekat. Jadi sistem distribusi tidak akan terkendala oleh hambatan geografis.
Kenapa dulu KPU menolaknya? Padahal itu kan usulan yang bagus?
Kita awalnya tidak merasa ditolak. Hanya merasa belum diterima. Namun, sekarang, kita baru merasa ditolak. Saat itu alasan lain mereka juga bahwa kita belum siap, SDM belum siap, komputer mungkin juga belum siap, dan lain sebagainya. Padahal, kita juga sudah menyiapkan antisipasi untuk hal itu.
Oke, setelah e-procurement tidak disteujui, kami diminta untuk membuat usulan rekomendasi untuk sistem IT. Kami tetap mencoba agar peristiwa 2004 tidak terjadi lagi. Dalam usulan dan laporan untuk sistem IT KPU, kami sudah merancang dengan hati-hati hingga lelang,
peraturan IT, dan jadwal penyelenggaraannya, sehingga benar-benar terstruktur dan terjadwal dengan baik. Kami juga memperhitungkan faktor keterlambatan, mulai dari keterbatasan infrastruktur, bagaimana formulir C1 tersebut bisa sampai ke kabupaten, apakah dengan ojek, perahu, jalan kaki, hingga delay time-nya juga kita perhitungkan.
Perhitungannya, penghitungan suara dimulai dari TPS-TPS terdekat di kabupaten. Setelah itu selesai, baru rekap yang dari daerah-daerah lain yang lebih jauh datang dan dipindai. Itu sudah kita desain. Bila secara online mengalami gangguan, kami juga sudah merancangnya secara offline, yaitu misalnya dengan mengirim CD, hingga dikirim dengan pesawat apa, dari mana, dan seterusnya.