Isi Ramalan Jayabaya yang Terbukti
Sabtu, 13 Juni 2015 - 07:02 WIB
Sumber :
- VIVA.co.id/ Dody Handoko
VIVA.co.id
-
"Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya Ratu Adil, apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap. Kapan, kapankah Matahari terbit?”. (Sukarno, 1930, Indonesia Menggugat).
Banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan "mirip" keadaan sekarang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof Arysio Santos, dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found disebutkan Atlantis adalah negeri tropis yang berlimpah mineral dan kekayaan hayati.
Namun, segala kemewahan itu lenyap tersapu bencana maha besar yang memisahkan Jawa dari Sumatera, menenggelamkan lebih dari separuh wilayah Nusantara. Kejadian itu diperkirakan pada 11.600 tahun yang lalu.
Apa yang diteliti oleh Arysio tersebut sebenarnya sudah dijelaskan dalam kitab Jangka Jayabaya. Masa itu masuk dalam periodesasi zaman besar kedua yang disebut dalam Jangka Jayabaya adalah zaman Kalijaga artinya zaman tumbuhan. Di Jawa yang saat itu masih menyatu dengan pulau-pulau lain mengalami perubahan, yakni terpecah menjadi pulau-pulau kecil.
"Selain ramalan yang diangggap tepat adalah tentang datangnya bangsa berkulit pucat maksudnya tentara Belanda yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari utara, maksudnya Jepang," kata budayawan Jawa, Aziz Hidayatullah.
Aziz menambahkan, ramalan lain adalah, "Kreto mlaku tampo jaran", "Prau mlaku ing nduwur awang-awang". Berarti, kereta tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang).
Lalu, datangnya zaman penuh bencana di Nusantara. Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, pagebluk rupo-rupo (gempa 7 kali sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam). Bahkan juga meramalkan global warming.
"Akeh udan salah mongso" yang artinya datangnya masa di mana hujan salah musim.
Raja Jayabaya juga banyak memberikan perlambang dan sindiran yang bisa dibuktikan hingga sekarang. Contohnya fenomena seks bebas yang hingga kini masih sering terjadi di masyarakat.
Banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan "mirip" keadaan sekarang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof Arysio Santos, dalam bukunya Atlantis The Lost Continent Finally Found disebutkan Atlantis adalah negeri tropis yang berlimpah mineral dan kekayaan hayati.
Namun, segala kemewahan itu lenyap tersapu bencana maha besar yang memisahkan Jawa dari Sumatera, menenggelamkan lebih dari separuh wilayah Nusantara. Kejadian itu diperkirakan pada 11.600 tahun yang lalu.
Apa yang diteliti oleh Arysio tersebut sebenarnya sudah dijelaskan dalam kitab Jangka Jayabaya. Masa itu masuk dalam periodesasi zaman besar kedua yang disebut dalam Jangka Jayabaya adalah zaman Kalijaga artinya zaman tumbuhan. Di Jawa yang saat itu masih menyatu dengan pulau-pulau lain mengalami perubahan, yakni terpecah menjadi pulau-pulau kecil.
"Selain ramalan yang diangggap tepat adalah tentang datangnya bangsa berkulit pucat maksudnya tentara Belanda yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari utara, maksudnya Jepang," kata budayawan Jawa, Aziz Hidayatullah.
Aziz menambahkan, ramalan lain adalah, "Kreto mlaku tampo jaran", "Prau mlaku ing nduwur awang-awang". Berarti, kereta tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang).
Lalu, datangnya zaman penuh bencana di Nusantara. Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, pagebluk rupo-rupo (gempa 7 kali sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam). Bahkan juga meramalkan global warming.
"Akeh udan salah mongso" yang artinya datangnya masa di mana hujan salah musim.
Raja Jayabaya juga banyak memberikan perlambang dan sindiran yang bisa dibuktikan hingga sekarang. Contohnya fenomena seks bebas yang hingga kini masih sering terjadi di masyarakat.
Halaman Selanjutnya