Rumah Sakit Dr Soetomo Peringatkan Ancaman Bioterorisme
Rabu, 19 Agustus 2015 - 10:43 WIB
Sumber :
- CNN
Ditengarai sudah ada di Indonesia
Ihwal ancaman bioterorisme itu pernah juga diperingatkan seorang Guru Besar pada Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Chairul Anwar Nidom. Dia mengaku sudah menengarai bioterorisme sudah terjadi di Indonesia. Namun, faktor, motif dan dampak masih perlu diteliti.
Peneliti virus flu burung, MERS, ebola, dan vaksin itu juga memaparkan bahwa bioterorisme perlu diantisipasi.
"Sebagai peneliti, kalau memperhatikan struktur kuman penyakit hewan di Indonesia, ada sejumlah fakta yang aneh meski motif dan dampaknya belum jelas," kata Prof Nidom pada 15 Januari 2015.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unair itu menjelaskan kemungkinan bioterorisme perlu diantisipasi. Sebab Masyarakat Ekonomi Asean atau globalisasi memang memicu persaingan ekonomi.
"Bioterorisme memang berbeda dengan terorisme dalam bentuk bom, karena teror bom itu sangat jelas dampaknya berupa ledakan dan korban. Sedangkan bioterorisme itu menggunakan bakteri, virus, dan kuman penyakit lain yang dampaknya tidak langsung, tapi bisa berlangsung lama, yakni perekonomian jatuh," katanya.
Menurut Guru Besar Bidang Ilmu Biokimia dan Biomolekuler itu, fakta-fakta nonalami yang memperkuat dugaan ada bioterorisme di Indonesia, antara lain, flu burung, yang terjadi sejak 2003. Tapi hingga 2015 atau dua belas tahun tidak terselesaikan, termasuk flu babi tahun 2009, yang strukturnya juga tidak alami.
"Bahkan, virus flu burung yang menyerang bebek pada tahun 2012, ternyata tidak sama dengan virus flu burung sebelumnya dan justru ada kemiripan dengan virus serupa di China. Itu aneh, kecuali ada impor bebek dari sana," kata Prof Nidom.
Dia juga mendeteksi jejak virus ebola pada hewan sejak tahun 2012 yang ditemukan secara tidak sengaja saat meneliti virus itu pada orangutan.
"Anehnya, virus ebola itu ada kemiripan dengan yang terjadi Afrika, bukan Filipina. Itu aneh," katanya.
Dia pun menyebut kasus yang terjadi di Jawa Timur, yakni penyakit anthrax di Blitar, beberapa waktu silam.
"Itu aneh, karena Jatim selama ini dikenal bebas anthrax. Hal yang jelas, ada dua akibat terkait itu, yakni Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah mengucurkan dana untuk itu, dan potensi menular pada hewan dan manusia juga sangat mungkin," tuturnya. (ase)
Gelar Operasi Antiteror, Polisi Kanada Lumpuhkan Tersangka
Tersangka bernama Aaron Driver dan ia bertindak tunggal.
VIVA.co.id
11 Agustus 2016