Tukang Tambal Ban Ini Ternyata Magister
Jumat, 27 November 2015 - 06:29 WIB
Sumber :
- VIVA/Dwi Royanto
VIVA.co.id - Siapa sangka Kadiyono (46), seorang tukang tambal ban di Kecamatan Boja, Kendal, Jawa Tengah, pernah menempuh pendidikan tinggi. Pria yang kini merintis sekolah luar biasa (SLB) gratis itu ternyata bergelar magister atau lulusan strata dua (S2).
Kadiyono memperoleh gelar sarjana (S1) dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang tahun 2001. Sementara gelar magisternya diraih melalui jurusan Manajemen Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 2012.
"Dulu kuliah S1 saya pernah terputus karena faktor ekonomi. Namun setelah sebelas tahun lamanya dari tahun 1990-2001, saya berhasil lulus,” ujar Kadiyono kepada VIVA co.id ditemui di rumahnya pada Kamis, 26 November 2015.
Bagi Kadiyono, keberhasilannya menempuh sejumlah jenjang pendidikan tinggi tak lepas dari aktivitas tambal ban yang sampai kini masih terus ditekuni. Meski kini tercatat sebagai seorang guru, pekerjaan tambal ban yang sudah ia lakoni sejak berusia delapan tahun itu masih terus berlanjut.
“Saya dari kecil sudah jadi tukang tambal ban, membantu ayah saya. Tanpa ini saya tidak akan jadi apa-apa," ujar Kadiyono.
Pantang tinggalkan kompresor
Rupanya ilmu kesabaran dan ketekunan yang sudah diajarkan serta dibiasakan sejak kecil, kini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi bapak tiga anak itu. Berkat aktivitas tambal ban pula Kadiyono berhasil merintis sebuah lembaga pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus di daerahnya.
Sekolah Luar Biasa bernama Insan Tiara Bangsa Plus hasil rintisannya bahkan dibuka secara gratis bagi para siswa autis, tuna netra, down syndrome, tuna daksa, tuna grahita, tuna wicara, dan tuna rungu.
"Mereka mengajarkan saya selalu sabar dalam menjalani hidup. Saya anggap mereka anak sendiri. Karena mereka juga punya hak yang sama memperoleh pendidikan," ujar Kadiyono.
Ditemui saat bekerja di lapak tambal bannya di Jalan Pemuda Boja, Kadiyono bahkan tampak berpenampilan sangat sederhana. Dia mengenakan kaus oblong penuh bekas oli dan sendal butut sederhana.
"Kompresor (alat pemompa angin) ini yang menjadikan saya sekolah tinggi. Maka saya tak akan meninggalkannya seperti apa pun keadaannya," ujarnya.
Halaman Selanjutnya