Ketika Bung Karno Utang Duit ke Ajudan

Kisah Bung Karno
Sumber :
  • VIVA.co.id / Dody Handoko

Bung Karno keluar dari istana dengan mengenakan kaos oblong cap cabe dan celana piyama warna krem. Baju piyamanya disampirkan ke pundak, dan ia memakai sandal merek Bata yang sudah usang.

Tangan kanannya memegang kertas koran yang digulung, berisi bendera pusaka merah-putih. Bendera yang dijahit oleh istrinya sendiri, Fatmawati, ketika masa proklamasi kemerdekaan.

Tak ada vooridjer, pengawalan, atau penghormatan ketika meninggalkan Istana Merdeka. Ia meninggalkan istana dengan mobil VW kodok yang dikendarai seorang sopir asal kepolisian.

Salah seorang anggota kawal pribadinya membawakan ovaltine, minuman air jeruk, air teh, air putih, kue-kue serta obat obatan Bung Karno.

Itulah seluruh harta yang dimiliki Bung Karno ketika meninggalkan Istana. Selebihnya ditinggalkan. Selama menjabat Presiden, ia tidak pernah memiliki rumah sendiri. Ia adalah presiden termiskin yang pernah ada.

img_title Bung Karno ke AS, Jadi Tamu Spesial Dijemput Pesawat Mewah

Selanjutnya>>> Cari utangan saat putrinya menikah...

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA



Soekarno tak punya uang simpanan di akhir hidupnya. Ketika salah seorang putrinya hendak menikah, Soekarno tak punya uang. Dengan malu dan terpaksa, dia meminta bantuan salah seorang istrinya, Yurike Sanger, untuk mencarikan utangan Rp2 juta.

Dengan pengawalan ketat, Soekarno menemui Yurike. Wanita itu menangis melihat Soekarno. Tak ada lagi kegagahan yang dulu tampak. Sosok Soekarno terlihat tua dan renta karena tekanan batin.

"Mas tak ingin diberi stempel sebagai bapak yang gagal. Yang jadi persoalan utama, Mas tidak punya uang. Hidupku selama ini sama sekali untuk bangsa dan negara, sama sekali untuk kepentingan nasional," beber Soekarno dengan getir.

Untungnya beberapa hari kemudian Yurike bisa mendapatkan uang itu. Dia mendapat pinjaman lunak dari seorang pengusaha.

Hal itu diceritakan Yurike Sanger dalam memoarnya yang ditulis Kadjat Adra'i dan diterbitkan Komunitas Bambu.

Anak-anak Bung Karno pun terkena getahnya. Mereka tidak pernah mewarisi harta Bung Karno yang berlebihan. Mereka juga harus bekerja untuk nenopang hidupnya. Guntur dipaksa berhenti sekolah, dan bekerja membantu ibunya. Mega, Rachma, Sukma hidup bersama suaminya.

Mereka masih sering berkumpul di rumah ibunya, di Jl. Sriwijaya 26, Jakarta Selatan. Kehidupan Fatmawati sendiri jauh dari kemewahan, sekalipun ia janda presiden, mantan first lady negara ini.

Dan ini cerita nyata. Menggambarkan betapa sederhananya keluarga mendiang Bung Karno. Manakala hujan turun deras, air masuk karena atap yang bocor.

Beberapa bagian langit-langit rumahnya bahkan tampak rapuh dan rusak. Sebagai janda presiden, Fatmawati tidak menerima tunjangan barang sepeser. Ia, baru menerima tunjangan resmi pada Juni 1979, sembilan tahun setelah kematian Sukarno!

Lebih ironi ketika tahun 1972, rumah di Jalan Sriwijaya harus ditinggalkan karena tak kuat menanggung biaya perawatan rutin. Fatma mengontrakan rumah itu. Rumah yang telah menemaninya dalam kesedihan dan kesepiannya. Uang kontrakan dipakai antara lain membiayai Guruh kuliah di Belanda.

Fatma sendiri hidup bersama ibunya, Khadijah di Jalan Cilandak V, Jakarta Selatan, tak jauh dari lokasi yang sekarang terkenal dengan Rumah Sakit Fatmawati. Namun saat itu, jalan menuju rumahnya sempit dan berlumpur.

img_title Kisah Bung Karno Marahi Guntur karena Ngetrek di Kebayoran
Guruh Soekarnoputra

Pejabat Hingga Artis Hadiri Ulang Tahun Guruh Soekarnoputra

Guruh hari ini menginjak usia ke-63 tahun.

img_title
VIVA.co.id
13 Januari 2016
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut