Kisah Manusia Bertangan Robot di Bali
Setelah semua teori terkumpul, saatnya Sumardana mencari alat-alat yang dibutuhkan. Apa daya, ia keterbatasan biaya. Ia memutar otak. Ia kumpulkan barang rongsokan yang selama ini disimpannya. Ya, selain sebagai tukang las, pria kelahiran 1984 ini juga pengepul barang-barang bekas.
"Dinamo, komputer, besi yang saya rakit ini semuanya rongsokan," ujar
Sumardana. Ia pun merakit alat tersebut. Tercatat lima kali ia bereksperimen dan mengalami kegagalan. Rupanya, dibutuhkan alat sensor otak yang sulit dicari di Indonesia.
Ia pun memesannya secara online. Tak tanggung-tanggung, ia membeli dari Amerika Serikat seharga Rp4,7 juta. Sempurna! Begitu alat tersebut dipasang, alat bantu yang dirakit sendiri oleh Sumardana itu bekerja maksimal.
Ia girang bukan main lantaran tangan kirinya kini dapat kembali menghasilkan rupiah.
"Ya sekarang senang karena tangan saya sudah bisa bekerja normal lagi. Anak saya kalau ke sekolah sekarang sudah bawa uang jajan," katanya bangga.
Selama ini, Sumardana melanjutkan, tak ada bantuan apapun dari pemerintah untuknya.
"Pemerintah kan memang begitu, cuek. Tidak ada bantuan untuk saya. Dari dulu tidak ada bantuan. Baru tadi Komisi I DPRD Karangasem datang ke sini. Ya, cuma lihat-lihat saja, biar terekspose kalau dia sudah bekerja," ujar Sumardana.
Kini, Sumardana sudah kembali bekerja normal. Order las dan pembuatan bahan-bahan dari besi mengalir deras untuknya. Tangan kirinya sudah bisa kembali digunakan untuk membantunya bekerja. Kendati begitu, hampir separuh badan Sumardana dipenuhi oleh alat elektronik dengan sambungan kabel. Ia pun laiknya manusia robot seperti tergambar dalam film animasi.