- VIVA.co.id/Zulkarnaini Muchtar
Menurutnya, tren wisatawan Muslim yang mencari produk-produk halal menjadi daya tarik bagi pemerintah untuk mengembangkan wisata halal. Saat ini menurut, populasi penduduk Muslim di seluruh dunia mencapai 1,6 miliar jiwa dengan 35 persen di antaranya warga Muslim yang produktif dan konsumtif.
"Ini yang kita sasar," ujar dia.
Rainier menuturkan, dalam mengembangkan pariwisata halal dibutuhkan peran serius pemerintah. Ia berharap, pemerintah bisa mendanai para pemenang Kompetisi Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 yang akan dikirim ke UEA untuk mengikuti ajang World Halal Tourism Awards dalam World Halal Travel Summit.
“Kalau enggak dibiayai buat apa kompetisi nasional kemarin? Kalau mau daftar sendiri saja tanpa harus ikut kompetisi nasional, bisa kan?” kata Rainier.
Ia optimistis, Indonesia bisa menang di ajang bergengsi itu jika pemerintah all out. Dengan kemenangan itu diharapkan turis mancanegara dan turis muslim di dunia semakin tertarik datang ke Indonesia.
Kementerian Pariwisata mengatakan, peran pemerintah jelas dalam hal pengembangan wisata halal di Indonesia saat ini. Sedikitnya ada tiga hal yang disiapkan untuk mendukung perkembangannya, pertama dari sisi regulasi.
Kedua, pemerintah akan memfasilitasi dan akan memberi insentif kemudahan-kemudahan di industri pariwisata. Ditegaskan, bukan hanya untuk kepentingan konsumen, tapi untuk para stakeholder industri pariwisata
"Kita berikan kemudahan-kemudahan untuk mereka berbisnis, bagaimana mereka mempromosikan produk-produknya," ungkap Lokot.
Ketiga, pemerintah akan melakukan penetrasi pasar, sehingga bisnis ini bisa berkembang. Artinya, ketika semua sektor swasta tidak ada yang berani untuk terjun buka jalan, maka pemerintah masuk ke situ sebagai pelopor.
Dengan upaya-upaya tersebut dia meyakini, dalam ajang World Halal Tourism Awards 2016 di Abu Dhabi Desember mendatang, banyak sektor usaha pariwisata halal di Indonesia dapat mengantongi predikat terbaik lebih banyak dibanding tahun lalu. (ms)