Analisis BIN Soal Serangan Virus Ransomware

Ilustrasi hacker.
Sumber :
  • Pixabay/Geralt

VIVA.co.id – Serangan virus ransomware WannaCry masuk ke jaringan sistem informasi rumah sakit di Indonesia. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Pol Budi Gunawan menjelaskan, analisis lembaganya terkait penyebab virus yang menyerang sistem informasi rumah sakit yang berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat.

img_title Mobil Anda Bisa Dikunci Hacker dari Jarak Jauh, Ini Ancamannya di 2026

"Serangan ini berawal dari bocornya tool yang digunakan oleh National Security Agency (NSA) yaitu sebuah kode pemrograman exploit yang memanfaatkan kelemahan sistem dari Microsift Windows," kata Budi Gunawan dalam keterangannya, Senin, 15 Mei 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia mengatakan, grup hacker yang menyebarkan virus ini adalah Shadow Broker. Motif serangan ini sebelumnya dilakukan oleh negara dengan sistem operasi informasi canggih. Namun, saat ini menjadi serangan yang dilakukan oleh kelompok dengan motif komersial untuk merugikan masyarakat luas.

img_title Bahaya Mengintai Pengguna NFC di Indonesia

"Serangan ini merugikan masyarakat banyak," ujar mantan Wakapolri itu.

Kemudian, Budi juga menyebut berdasarkan dari bagian perangkat lunak atau exploit yang dibocorkan maka harus diwaspadai exploit lainnya. Hal ini penting bagi yang belum bisa mengantisipasi serangan virus ini.

img_title AI Kini Dipakai Penjahat Siber, Ransomware Makin Pintar dan Sulit Dilawan

"Jadi kita harus waspada terhadap exploit lainnya yang digunakan oleh state atau non state hacker untuk melakukan penetrasi ke dalam sistem target yang memiliki kelemahan dan tidak sempat diantisipasi pembuat sistem," ujarnya menjelaskan.

Sebelumnya, dua rumah sakit besar di Indonesia dilaporkan terkena serangan siber 'ransomware' yang menginfeksi komputer secara global. Dua rumah sakit itu adalah Dharmais dan Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan siber bersifat tersebar dan masif, serta menyerang critical resource (sumber daya sangat penting), yang bisa dikategorikan teroris siber.

"Di Indonesia, berdasarkan laporan yang diterima Kominfo, serangan ditujukan ke Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais. Dengan adanya serangan siber ini, kami minta agar masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia siber," kata Direktur Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informtika, Semuel Pengerapan di Jakarta, Sabtu 13 Mei 2017. (mus)

Ilustrasi hacker.

Serangan Siber Berubah di Era AI, Phishing hingga Ransomware Kini Lebih Sulit Dideteksi

Perkembangan AI membuat serangan siber seperti phishing, pencurian kredensial, dan ransomware semakin canggih. Bisnis perlu meningkatkan cyber resilience.

img_title
VIVA.co.id
13 Maret 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut