Kenapa Ada Orang Rajin Beribadah Tapi Tak Berakhlak
- Facebook.com/KH.Abdullah.Gymnastiar
VIVA.co.id – Saudaraku. Pernah ada sebuah pertanyaan menarik, mengapa ada sebagian orang yang rajin beribadah di masjid atau pun rajin mencari ilmu agama bahkan sebagiannya menyampaikan ilmu, tetapi sikap dan perilakunya tidak seindah ibadah atau ilmu yang dimilikinya?
Misalnya ada suami yang rajin salat dan saum, tapi rajin pula berbuat dosa. Ada yang berjilbab bagus dan lebar, tapi kelakuannya masih berghibah, fitnah, juga mencuri. Ada ibu yang rajin pergi ke majelis taklim, tapi sepertinya tetap tidak membaik akhlaknya. Atau, kata anaknya, “Bapak saya kalau berdebat tentang dalil luar biasa, tapi emosional.”
Contoh lain, ada yang suka berceramah tapi sikapnya jauh dari apa yang diceramahkan. Atau seperti ada yang bilang, “Dia itu ustaz tapi kok suka maksiat!” Ada juga yang akrab dengan Allquran, bahkan hafal sebagian Alquran, tapi terus saja melakukan hal-hal yang sudah diperingatkan di dalam Alquran.
Juga ada yang dekat dengan ulama atau tinggal di pesantren bertahun-tahun, tapi akhlaknya tetap tidak membaik. Pergi ke pengajian seperti makan obat (tiga kali sehari), dekat dengan sumber ilmu dan dekat dengan masjid, tapi tetap saja tidak jujur. Atau, malah ada yang menjadi pengurus masjid sekaligus menjadi pencuri uang masjid.
Nah, terus terang Aa tegang membahas persoalan ini. Sebab saat membahasnya, Aa juga sambil memikirkan kelakuan Aa sendiri. Tetapi karena hal ini amat penting bagi masing-masing diri kita, mari kita coba melihat tiga hal yang menyebabkannya.
Pertama, hatinya memang cinta dunia. Sehingga ilmu agama dan ibadahnya itu untuk mendapatkan dunia yang ia inginkan. Rajinnya beribadah atau mencari ilmu bukan untuk mencari kedudukan di sisi Allah SWT, tapi untuk mencari kedudukan di depan orang/makhluk.
Seperti yang rajin ibadah di hatinya ingin dianggap saleh atau salehah, dipuji sebagai ahli masjid, dikagumi sebagai aktivis pengajian, hijabers dan sorbanbers. Demikian dengan yang rajin mencari ilmu, karena di hatinya ingin dianggap sebagai orang yang paham agama, mendapat gelar sarjana keagamaan, dipanggil ustaz atau ustazah, hafiz dan hafizah, dan sebagainya.