Khawatir Presiden Tersandera, UU Pemilu Digugat Ke MK

Mahkamah Konstitusi
Sumber :
  • ANTARA/Fanny Octavianus

VIVA.co.id – Ketua Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), Habiburokhman, mengajukan uji materi Undang-Undang Pemilu yang baru disahkan oleh DPR karena dianggap bertentangan dengan UUD ‘45.

img_title RUU Pemilu Mulai Digodok, DPR Janjikan Partisipasi Publik dan Kaji Pemberlakuan Sistem Elektronik dalam Pemilihan

"Keberadaan pasal 222 dalam Undang Undang Pemilu mengenai Presidential Threshold 20-25 persen menabrak pasal 4, 6A, 28D ayat (1) dan ayat (3) UUD 45," katanya di gedung MK, Jakarta, Senin 24 Juli 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Habiburokhman mengaku khawatir dengan adanya Presidential Threshold 20-25 persen, Presiden nantinya justru akan berpihak pada partai pendukung dan bukan kepada rakyat. "Sehingga kalau negara diselenggarakan tidak sesuai konstitusi maka negara akan hancur," ujarnya.

img_title RUU Pemilu Mulai Dibahas, Komisi II DPR Kaji Wacana Tambah 11 Kursi Legislatif

Wakil Ketua ACTA Hendarsam Marantoko menambahkan, Undang-Undang Pemilu yang baru disahkan DPR dapat menimbulkan diskriminasi terhadap parpol peserta pemilu yang seharusnya berhak mencalonkan presiden dan wakilnya.

"Pengaturan pasal 222 telah menimbulkan diskriminasi pada Parpol peserta Pemilu. Parpol yang baru pertama kali ikut Pemilu. Dan Parpol yang  pada Pemilu sebelumnya tidak sampai 20 persen akan kehilangan hak untuk mengusulkan calon Presiden dan Wakil Presiden," paparnya.

img_title Menguak Alasan Rapat RUU Pemilu Masih Dilakukan Tertutup

Hendarsam berharap, MK segera memproses dan menerima permohonan uji materi yang diajukan. Meskipun saat ini Undang-Undang Pemilu masih menunggu penomeran dan ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

Sebelumnya, DPR mengesahkan revisi Rancangan Undang Undang (RUU) Pemilu menjadi undang-undang. Ada lima poin krusial yang diputuskan dalam paripurna. Lima poin itu terdapat dalam opsi paket A yang diperjuangkan koalisi parpol pendukung pemerintah minus PAN.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sebelum mengambil keputusan, proses dalam paripurna berlangsung alot dengan beberapa kali skors. Bahkan, tiga pimpinan sidang paripurna yaitu Agus Hermanto (Fraksi Demokrat), Taufik Kurniawan (F-PAN), dan Fadli Zon (F-Gerindra) harus ikut fraksinya untuk walk out.

Dalam paket A ini ada lima poin yaitu ambang batas pencalonan Presiden atau Presidential Threshold 20/25 persen, ambang batas parlemen atau ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold) 4 persen, sistem pemilu terbuka, alokasi kursi 3-10, dan metode konversi suara: sainte lague murni. (mus)

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia

Golkar Usul Sistem Pemilu Campuran dalam RUU Pemilu, 58 Kursi DPR RI Bisa Diisi Lewat Skema Dapil Nasional

Golkar mengusulkan sistem pemilu campuran dengan dapil nasional dalam RUU Pemilu. Skema ini membuka peluang alokasi 58 kursi DPR RI dari dapil nasional.

img_title
VIVA.co.id
13 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut