PPP Usulkan Ambang Batas Presiden 10-15 Persen

Proses penghitungan suara Pilpres 2014 di Aceh, Rabu (9/7/2014). (Foto ilustrasi).
Sumber :
  • VIVAnews/Zulfikar Husein

VIVA.co.id - DPR masih membahas sejumlah isu krusial terkait Revisi Undang-Undang Pemilu. Anggota Pansus RUU Pemilu Fraksi PPP, Achmad Baidowi, pun mengusulkan angka predisidential threshold sekitar 10-15 persen untuk menjembatani kebuntuan pembahasan RUU Pemilu.

img_title Soal Revisi UU Pemilu, NasDem Usul Parliamentary Threshold 7 Persen, Rifqinizamy Ungkap Alasannya

"Angka tersebut merupakan salah satu kompromi untuk menyatukan dua kutub yang berbeda secara diametral," kata Baidowi melalui keterangan tertulisnya, Rabu 14 Juni 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, dengan angka tersebut, PPP sudah menurunkan dari angka daftar inventaris masalah (DIM) awal sebesar 25 persen kursi dan 30 persen suara. Jika dengan jalan kompromi tersebut ditempuh maka pengambilan keputusan RUU Pemilu bisa tidak melalui voting.

img_title Revisi UU Pemilu, LAPD Mewanti-wanti Munculnya Legislative Rush

"Hal ini karena sudah ada kesamaan pemahaman di empat isu lainnya. Maka kalaupun dipaksa masuk kategori paket, kompromi yang kita tawarkan akan menjadi paket baru di luar empat paket yang beredar," katanya.

Baidowi berharap presiden threshold berada di kisaran 10-15 persen, parliamentary threshold 3,5-4 persen, alokasi kursi perdapil 3-10, metode konversi suara kuota hare, penetapan caleg terpilih terbuka.

img_title RUU Pemilu Mulai Dibahas, Komisi II DPR Kaji Wacana Tambah 11 Kursi Legislatif

"Kami berharap hari ini ada keputusan sehingga kamis sudah bisa diambil keputusan tingkat I," kata Baidowi.

Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi Demokrat, Dede Yusuf

Ditanya soal Penambahan Jumlah Anggota KPU dan Bawaslu RI, DPR sebut Belum Ada Keputusan

Wakil Ketua Komisi II DPR RI dari Fraksi Demokrat, Dede Yusuf jelaskan bahwa belum ada keputusan mengenai wacana penambahan jumlah komisioner KPU dan Bawaslu

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut