Bos IMF Kenalkan Model Kerja Sama Baru untuk Hadapi Gejolak Global

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde
Sumber :
  • ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Puspa Perwitasari

VIVA – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde memperkenalkan, suatu bentuk skema kerja sama internasional baru, yang disebutnya multilateralisme baru. Hal itu disampaikannya dalam Annual Meeting Plenary Pertemuan Tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali Nusa Dua Convention Center, Jumat 12 Oktober 2018.

img_title Kadin Indonesia Genap 58 Tahun, Anindya Bakrie Ungkap Fokus Besar untuk Dunia Usaha dan UMKM

Skema tersebut diperkenalkannya supaya negara-negara anggota IMF mampu menghadapi gejolak perekonomian global yang saat ini terus terjadi. Seperti perang perdagangan yang terus meluas dan semakin intensif, hingga risiko-risiko yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi dan digital ekonomi serta perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mengarungi lanskap baru ini memerlukan kerja sama internasional, suatu kerja sama yang berbeda dari sebelumnya. Saya menyebutnya multilateralisme baru. Multilateralisme ini lebih inklusif, lebih berorientasi pada masyarakat, dan lebih berorientasi pada hasil," katanya.

img_title Konflik AS-Iran Picu Kenaikan Harga Plastik hingga 50 Persen, Pedagang Pasar Kian Tertekan

Karena itu dia mengatakan, multilateralisme baru itu adalah kemitraan yang lebih kokoh antar negara untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Di mana upaya ini mengharuskan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk bekerja bersama untuk menumpas diskriminasi secara umum.

Kemudian, merancang reformasi pasar tenaga kerja yang tepat; dan memperkuat reformasi sistem pendidikan, pelatihan, dan perlindungan sosial serta menyiapkan masyarakat untuk menghadapi transformasi teknologi yang akan datang.

img_title Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Analis Peringatkan Pertanda Buruk Bagi Ekonomi Global

"Jenis kemitraan ini adalah bagian tak terpisahkan dari multilateralisme baru, bukan hanya karena ketegangan yang muncul dari eksklusi dan perubahan iklim yang tidak mengenal batas negara. Dalam hal ini, solidaritas justru menjadi kepentingan diri," paparnya

"Multilateralisme baru juga harus bersifat lebih inklusif, terbuka terhadap beragam pandangan dan pendapat. Multilateralisme baru ini harus lebih berorientasi manusia, mengedepankan kebutuhan manusia. Dan harus lebih efektif dan akuntabel, mewujudkan hasil bagi semua," tambahnya.

Fashion show hijab

Industri Fesyen Muslim Indonesia Punya Potensi Ekonomi Besar, Pasar Global Jadi Rebutan

Industri fesyen muslim Indonesia mempertahankan posisi global dan memiliki peluang ekonomi besar melalui pengembangan pasar, kreativitas, serta kolaborasi bisnis.

img_title
VIVA.co.id
13 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut