Alasan BPS Sulitnya Mendata Perdagangan E-Commerce

Kepala BPS Suhariyanto.
Sumber :
  • Arrijal Rachman/VIVA.co.id.

VIVA – Badan Pusat Statistik mengaku kesulitan untuk segera menerbitkan data perdagangan elektronik atau e-commerce di Indonesia. Pelaku usaha segmen itu disebut-sebut pelit informasi.

img_title Menteri Maman: Implementasi Diskon 50 Persen Biaya E-Commerce Bagi UMK Tunggu Jadwal Integrasi

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto mengatakan, tidak ingin berjanji terkait kapan rampungnya perekaman data e-commerce, lantaran target rilis perekaman data yang pernah disebutkannya bisa selesai pada akhir tahun ini, belum juga dapat menemukan titik terang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Saya belum bisa janji deh. Saya pernah ngomong akhir tahun ini kan. Tapi itu pattern-pattern-nya enggak bisa akhir tahun ini, jadi saya perlu banyak waktu panjang," kata Suhariyanto saat ditemui di Hotel Aston, Bogor, Sabtu, 24 November 2018.

img_title Ekspansi ke Thailand, AHA Commerce Bawa Model Pengelolaan E-Commerce RI ke Pasar Asia Tenggara

Perekaman data yang pada dasarnya telah dimulai sejak awal 2018 itu, baru bisa mendekati 20 pelaku utama e-commerce. Padahal, anggota asosiasi e-commerce Indonesia atau Indonesian e-commerce Assoisiation (IdEA) yang menjadi target perekaman BPS berjumlah 320 pelaku bisnis.

"Kita baru dekatin yang 20 pelaku utama. Kita masih harus berupaya keras, kita tunjukkan bahwa itu juga bermanfaat untuk mereka. Karena ini memang sesuatu yang baru. Di negara lain pun juga susah, tapi pada saatnya nanti akan saya kasih tahu," ungkapnya.

img_title Penerapan Pajak E-Commerce Berpeluang Kembali Ditunda, Purbaya Ungkap Alasannya

Sebagai informasi, data yang bakal direkam BPS mencakup transaksi, omzet, teknologi, investasi luar dan dalam negeri, serta metode pembayaran. 

Rencananya, BPS bakal mengklasifikasikan e-commerce dalam sembilan kategori, antara lain, marketplace, transportasi, logistik, pembayaran, dan perusahaan investasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati sebelumnya juga telah mengungkapkan, tersedianya basis data e-commerce yang akurat menjadi sebuah keniscayaan dalam membangun Indonesia di era Revolusi Industri 4.0. 

Sebab, selain untuk mendukung penyusunan angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis kuartal oleh BPS, data e-commerce sangat penting dalam pengambilan kebijakan ekonomi pemerintah, khususnya mengenai transaksi online. (ase)

Menteri Perdagangan, Budi Santoso

E-Commerce Harus Utamakan Produk Lokal, Mendag Dorong Transparansi dari Platform hingga Konsumen

Mendag Budi mengatakan, aturan perdagangan elektronik (e-commerce) harus mengutamakan produk lokal di etalase marketplace, hingga transparansi antara pedagang & konsumen.

img_title
VIVA.co.id
21 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut