Buwas Minta Kepastian Peran Bulog dalam Program BPNT

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Mohammad Yudha Prasetya

VIVA – Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menegaskan, lembaganya harus bisa kembali pada peran utamanya untuk menjaga stabilitas harga dan kualitas pangan. Selain itu, bisa menjaga keterjangkauannya bagi masyarakat.

img_title Jaga Pasokan dan Harga Beras, Jajaran Bulog Se-Indonesia Gelar Operasi Pasar

"Supaya masyarakat dari tingkat petani sampai konsumen itu ada jaminan. Itu maksudnya Bulog dibangun dari zaman dulu," kata Budi Waseso di kantornya, kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa 2 Juli 2019.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski demikian, pria yang akrab disapa Buwas itupun tak menyangkal bahwa seiring perubahan zaman, peran Bulog pun mengalami pergeseran dari tugas dan fungsi pokoknya tersebut.

img_title Harga Cabai hingga Telur Ayam dan Gula Kembali Naik, Cek Daftar Lengkapnya

Di sisi lain, Buwas juga memperingatkan bahwa pergeseran tupoksi Bulog ini memiliki ancaman. Di mana, segala aspek yang tadinya dikontrol dan dijaga stabilitasnya oleh Bulog, bisa menjadi tidak optimal karena pergeseran makna tersebut.

Salah satunya adalah masalah kepastian bahwa apakah Bulog dilibatkan dalam program bantuan pangan non-tunai atau BPNT, untuk ikut menyalurkan pangan dalam pelaksanaan program tersebut.

img_title Beras Langka di Ritel Modern, Mendag Busan Minta Bulog Isi Kekosongan

"Nah kalau tidak ada kepastian, yang terombang-ambing adalah Bulog. Ancaman buat Bulog, kalau program ini tidak ada kepastian, maka ada 2,5 juta ton beras Bulog yang terancam busuk," kata Buwas.

Dia pun berharap kepastian itu nantinya bisa menentukan, apakah cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada di Bulog saat ini bisa terserap melalui program BPNT atau harus dikomersilkan saja sebagai opsi distribusi lainnya.

"Makanya saya mendorong ada kepastian sesegera mungkin, di mana kalau memang Bulog tidak men-supply BPNT, ya sudah enggak apa-apa. Berarti 2,5 juta ton itu bukan CBP, lalu kita bisa jual dan komersial kan, aman," ujarnya.

Guna mencari kepastian mengenai hal itu, Buwas pun mengaku bahwa dalam beberapa hari ini pihaknya masih harus mengadakan rapat bersama Kemenko Perekonomian dan Kemenko PMK.

"Memang belum putus dan kita juga masih rapat terus. Termasuk hari ini ada rapat dengan Menko Perekonomian dan hari Kamis di Menko PMK, dalam rangka membahas ini," kata Buwas.

"Jadi saya menginginkan segera selesai dan jelas masalah ini. Kasihan petani kan, dan masyarakat kecil yang menerima BPNT itu," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Diketahui, Perum Bulog akan melepas 50 ribu ton cadangan beras pemerintah (CBP) dari gudang, guna mendistribusikannya demi menghindari kerusakan beras yang disimpan di gudang Bulog tersebut.

Sejumlah upaya hilirisasi pun dilakukan Bulog demi mendistribusikan beras itu, misalnya melalui program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH), penjualan komersial lewat Rumah Pangan Kita (RPK), serta melalui program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Kemasan baru beras SPHP jadi Beras Kita Medium

Pemerintah Ganti Nama dan Kemasan Beras SPHP Jadi 'Beras Kita'

Pemerintah menjadwalkan peluncuran resmi kemasan baru "Beras Kita" pada 20 Oktober 2026 mendatang bersamaan dengan tiga tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

img_title
VIVA.co.id
7 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut