BI Ungkap Masyarakat Lebih Cenderung Menabung, Ciri-ciri Resesi?

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

VIVA – Bank Indonesia mengungkapkan kecenderungan masyarakat menyimpan uang atau menabung semakin tinggi saat ini sebagai dampak pandemi COVID-19. Sementara itu, dari sisi konsumsi semakin rendah.

img_title Ngeri! Ancaman Resesi di Depan Mata, 250 Ribu Orang Bisa Kena PHK hingga 2027

Kondisi itu digambarkan banyak ekonom sebagai salah satu ciri-ciri resesi. Sebab, konsumsi masyarakat berkontribusi hingga 57,85 persen dari perekonomian atau Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan itu tergambar dari tingginya Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan yang masih tumbuh 11,64 persen pada Agustus 2020. Sedangkan bulan sebelumnya hanya 8,53 persen.

img_title IMF Peringatkan Resesi Global di Depan Mata, Negara Berkembang Paling Terpukul!

"Meningkat dalam konteks masyarakat memang pendapatannya sebagian ditabung untuk berjaga-jaga ke depan. Karena kenaikan konsumsi belum kuat," kata Perry saat rapat kerja dengan DPR, Senin 28 September 2020.

Baca juga: Sektor-sektor yang Masih Bertahan Dihantam Resesi Akibat COVID-19

img_title India Mulai Rasakan Dampak Kenaikan Harga Minyak Dunia, Inflasi Terancam Tembus 5 Persen

Dari sisi konsumsi yang saat ini tertekan, tergambar dari pertumbuhan penyaluran kredit yang hanya 1,04 persen hingga akhir Agustus tahun ini. Besaran itu turun dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,53 persen.

Indikator kredit dikatakannya memang bisa dipertanyakan apakah memang dari perbankannya yang selektif atau memang tidak adanya permintaan kredit dari masyarakat, khususnya pengusaha.

"Tapi tentu saja faktor yang lebih dominan karena kegiatan ekonomi yang belum tumbuh sehingga permintaan untuk peningkatan kreditnya itu belum kelihatan bahkan plafon yang sudah disediakan perbankan belum semuanya diserap," tutur dia.

Resesi ekonomi dipastikan terjadi di Indonesia setelah pertumbuhan ekonomi nasional berturut-turut melemah dari rata-rata tahunan atau dua kuartal berturut-turut negatif. Tapi, resesi bisa semakin buruk jika masyarakat terus menahan konsumsinya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala Ekonom Danareksa, Moekti Prasetiani Soejachmoen, mengatakan resesi itu sangat dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat. Jika masyarakat semakin yakin terjadi resesi maka dia akan menahan konsumsinya.

“Dengan masyarakat mengurangi konsumsi sebenarnya itu adalah mereka akan memperparah resesi itu sendiri karena tidak ada kegiatan ekonomi di masyarakat," kata dia secara virtual, Jumat 25 September 2020. (ren)

Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni melakukan kunker ke Jakarta Barat saat reses

Sahroni Ingatkan Warga Biasakan Selesaikan Konflik Lewat Jalur Hukum, Bukan Main Hakim Sendiri

Ahmad Sahroni mengatakan, budaya main hakim sendiri dan kekerasan tidak boleh dibiasakan karena justru bisa memicu persoalan baru di tengah masyarakat.

img_title
VIVA.co.id
7 Mei 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut