Mendag Sebut Surplus Perdagangan 2020 Menghawatirkan, Kok Begitu?

Mendag M Lutfi.
Sumber :
  • Repro video.

VIVA – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menilai, surplusnya neraca perdagangan Indonesia pada 2020 merupakan bukti nyata bahwa perekonomian Indonesia dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Padahal, surplus itu baru terjadi lagi sejak catatan 2012.

img_title Syed Saddiq Respons Pernyataan M. Lutfi soal Karhutla: Ini Bukan Malaysia Lawan Indonesia!

Sebagaimana diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca ekspor impor Indonesia pada tahun itu surplus sebesar US$21,74 miliar. Tertinggi sejak 9 tahun terakhir karena pada 2011 NPI tercatat sebesar US$26,06 miliar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lutfi menjelaskan, mengkhawatirkannya surplus neraca perdagangan ini disebabkan turun tajamnya kinerja ekspor dan impor Indonesia. Bahkan, dikatakannya, kinerja impor yang untuk mendukung geliat industri dalam negeri turunnya jauh lebih tajam.

img_title Australia Jadi Pasar Kopi RI, Nilai Ekspor Rp10 Triliun Dibidik dalam 3 Tahun

"Menurut hemat saya sangat mengkhawatirkan, karena kalau kita lihat di situ ekspornya turun 2,6 persen meski nonmigas hanya turun setengah persen tapi impornya turun lebih jauh menjadi 17,3 persen," kata Lutfi di acara Bisnis Indonesia Business Challenges 2021, Selasa, 26 Januari 2021.

Baca juga: Duduk Perkara Gugatan Rp10 Miliar Sri Bintang Pamungkas ke BCA

img_title Respons Kritik Mantan Mendag Soal Kebakaran Hutan, Singapura Singgung Konfrontasi dengan Indonesia

Menurut Lutfi, penurunan itu disebabkan barang impor berupa bahan baku atau penolong yang porsinya terhadap keseluruhan impor mencapai 70,2 persen terjadi penurunan drastis. Artinya terjadi pelemahan terhadap sektor produksi dalam hal penyerapan barang modal.

"Karena barang impor kita itu 70,2 persen adalah bahan baku dan bahan penolong, jadi artinya kalau turun 17,3 persen impornya saya takut terjadi juga pelemahan-pelemahan terhadap sektor produksi yang dikonsumsi di dalam negeri," ucap Lutfi.

Melemahnya aktivitas perdagangan itu, menurut Lutfi, lebih disebabkan efek samping dari kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditujukan untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19.

"Ini efek samping PSBB. Jadi kalau kita lihat di situ sektor perdagangan turun 5,3 persen kuartal III year on year, transportasi dan perdagangan turun 16,7 persen, artinya perdagangan tergantung stok terganggu," ujar dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika aktivitas perdagangan terganggu, dimulai dari konsumsi masyarakat yang melemah dan produksi industri menjadi terganggu, Lutfi memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2021 akan terdampak secara langsung.

Oleh sebab itu, Lutfi memastikan, demi menjaga agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tetap optimal atau lebih baik dari kondisi 2020, seluruh arus barang yang masuk ke Indonesia akan kembali normal atau lebih baik dari tahun lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut