Ngurus Pandemi, Pendapatan Holding BUMN Farmasi Meroket

Karyawan berjalan di dekat envirotainer berisi vaksin COVID-19 AstraZeneca saat tiba di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Senin malam, 8 Maret 2021.
Sumber :
  • ANTARA/Novrian Arbi

VIVA – Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bio Farma untung besar selama pandemi Virus Corona atau COVID-19. Pada Semester I-2021, mencatatkan pendapatan meningkat 164 persen dari Rp5,78 triliun menjadi Rp15,26 triliun.

img_title Mengenal Influenza A yang Ramai Dibahas, Gejala dan Cara Mencegahnya

Diketahui, dalam holding ini Bio Farma sebagai induk sedangkan Kimia Farma dan Indofarma sebagai dua anak perusahaan. Dengan 13 pabrik, 78 jaringan distribusi dan 1.300 jaringan apotek serta 560 laboratorium klinik di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Penataan ulang portofolio produk ini, menjadi prioritas kami, mengingat produk Kimia Farma dan Indofarma, ada yang saling beririsan. Hal ini kami lakukan agar dapat memenuhi kebutuhan Pemerintah akan obat dan dapat menurunkan harga produk yang saling bersaing," ujar Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir di Bandung, Senin, 27 September 2021.

img_title Bio Farma Umumkan Vaksin Rotavirus Neonatal Bio-RV Raih Izin Edar BPOM, Simak Khasiatnya

"Kami sudah menetapkan jenis produk apa saja yang akan dihasilkan oleh masing-masing entitas. Baik Kimia Farma yang akan menghasilkan produk chemical, dan Indofarma menghasilkan produk herbal dan alkes," tambahnya. 

Selama pandemi dia menjabarkan, pendapatan didapat dari inisiatif menyediakan masker medis dan non-medis dengan harga jauh di bawah harga pasar. Memastikan ketersediaan obat terapi COVID seperti azithromycin, oseltamivir, chloroquine, dan remdesivir. 

img_title Ancaman Pandemi Baru Mengintai, Indonesia Mulai Uji Skenario Vaksin 100 Hari

Holding BUMN Farmasi juga fokus untuk memastikan ketersediaan produk dengan meningkatkan kapasitas produksi. Dan, memastikan ketersediaan bahan baku yang harganya sempat meningkat sampai 600 persen saat pandemi karena pembatasan yang diberlakukan.

Kemudian, penyediaan vaksin COVID-19 dari berbagai macam platform yang diperoleh melalui hubungan bilateral dan multilateral. Terhitung tanggal 24 September 2021 sudah terdistribusi sebanyak lebih dari 175 juta dosis. 

Penerapan Sistem Manajemen Distribusi Vaksin (SMDV), untuk memastikan distribusi vaksin yang real-time. Sehingga, kualitas vaksin akan tetap terjaga sejak meninggalkan Gudang distribusi Bio Farma, hingga vaksin digunakan di masyarakat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lebih lanjut dia menjelaskan secara detail, pendapatan Bio Farma sendiri didapat dari realisasi pendapatan penugasan yang mencapai Rp8,12 triliun. Terdiri dari Rp 7,97 triliun program vaksin COVID-19 dan Rp144,30 miliar, didapat dari program Vaksinasi Gotong Royong (VGR). 

Untuk anggota Holding BUMN Farmasi, Kimia Farma membukukan pendapatan pada Semester I-2021 sebesar Rp5,56 triliun yang diperoleh dari penjualan produk pihak ketiga sebesar Rp4,1 triliun termasuk di dalamnya, kemudian didapat dari VGR sebesar Rp402,9 miliar. Pertumbuhan penjualan dari Kimia Farma sendiri mencapai 18,6 persen yoy.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut