Pelaku Industri Vape Minta Kesetaraan

Macam-macam bentuk rokok elektrik atau vape.
Sumber :
  • dok. pixabay

VIVA – Memasuki akhir tahun, pembahasan terkait cukai untuk produk tembakau mulai mencuat, tak terkecuali untuk produk hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL). Penerapan tarif cukai dinilai harus mempertimbangkan berbagai macam aspek, termasuk kesetaraan dalam berbisnis.

img_title DPR Minta MUI Segera Terbitkan Fatwa Haram Vape: Ini Hajat Hidup Umat

General Manager RELX Indonesia, Yudhistira Eka Saputra menyatakan, saat ini masih ada ketimpangan dalam sistem tarif cukai untuk produk vape.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Untuk vape sistem tertutup, jumlah cairan per cartridge adalah 2ml, dengan harga jual eceran minimum adalah Rp30 ribu per cartridge. Jika kita bandingkan dengan sistem terbuka, harga jual eceran minimum per mililiter adalah Rp666, sehingga secara lebih sederhana dapat dikatakan industri vape sistem tertutup membayar cukai sebesar 23 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan sistem terbuka," ujarnya kepada awak media, Jumat, 8 Oktober 2021. 

img_title Respons MUI soal Kapolri yang Minta Vape Diharamkan, Usulan Suyudi akan Dikaji Mendalam

Ketimpangan dalam penetapan besaran cukai ini, terang dia, menghambat pertumbuhan industri vape sistem tertutup di Indonesia. Investor asing berpikir ulang untuk menjadikan Indonesia sebagai negara sasaran investasi. Padahal, di tataran global, industri ini sedang maju-majunya. Negara-negara seperti Selandia Baru, Inggris, dan Korea Selatan sudah memfasilitasi pertumbuhan industri ini.

Fenomena tersebut dinilai layak menjadi perhatian karena potensi investasi yang ada, mengingat Pemerintah menargetkan capaian investasi sebesar Rp1,2 triliun di 2022. Sayangnya, skema regulasi yang ada di Indonesia seperti belum memberikan kemudahan berbisnis untuk para investor HPTL. Untuk itu, Yudhistira menyarankan agar sistem cukai untuk sistem terbuka dan tertutup disamakan.

img_title Bagaimana Hukum Rokok Elektrik? Ini Pembahasan Bahtsul Masail PBNU

"Karena perbedaan sistem terbuka dan tertutup hanya terdapat di sisi packaging," imbuhnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pada 2020, HPTL menyumbang kepada kas negara dari cukai sebesar Rp689 miliar. Namun, pada 2021, penerimaan cukai ditaksir tidak tumbuh akibat pandemi. Sebagai yang tergolong baru, industri HPTL masih menyimpan potensi yang besar, sehingga membutuhkan dukungan dari pemerintah agar kontribusinya ke ekonomi dapat dirasakan secara maksimal. Belum lagi potensi dari produk HPTL dalam memberikan alternatif produk yang lebih rendah risiko, dapat mendukung tujuan pemerintah dalam meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.

Sebagai pelaku industri, RELX berharap Pemerintah Indonesia dapat menerbitkan kebijakan yang wajar dan berimbang yang mampu melindungi pengguna dan pelaku usaha. Kebijakan juga harus didasarkan pada penelitian ilmiah dan mempertimbangkan aspek pengurangan risiko yang ada pada vape.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut