Ombudsman Catat 5 Potensi Maladministrasi Program Pupuk Bersubsidi

Pupuk bersubsidi.
Sumber :

VIVA – Anggota Ombudsman Republik Indonesia, Yeka Hendra Fatika mengungkapkan, berdasarkan serangkaian penelusuran yang dilakukan, pihaknya mencatat adanya lima potensi maladministrasi yang terjadi pada program pupuk bersubsidi.

img_title Tinjau Irigasi, Gubsu Bobby Serap Aspirasi dan Beri Solusi untuk Petani di Gunung Sitoli Nias

Hal itu diutarakannya dalam paparan hasil kajian sistemik yang dilakukan oleh Ombudsman RI, terkait soal 'Pencegahan Maladministrasi dalam Tata Kelola Pupuk Bersubsidi'.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Potensi maladministrasi pertama menurut Yeka adalah soal penentuan kriteria dan syarat petani penerima pupuk bersubsidi. Yang saat ini tidak diturunkan dari rujukan Undang-undang yang mengatur secara langsung mengenai program pupuk bersubsidi tersebut.

img_title Kawal Program Irigasi di Grobogan, Ibas: Infrastruktur Harus Dimanfaatkan untuk Kesejahteraan Rakyat

"Yaitu Undang-undang nomor 19 tahun 2003 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani, dan Undang-undang nomor 22 tahun 2019 tentang sistem budidaya pertanian berkelanjutan, serta Undang-undang nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik," kata Yela dalam telekonferensi, dikutip Rabu, 1 Desember 2021.

Baca juga: Gubernur Anies Hadiri Reuni Alumni 212? Ini Kata Wagub Riza

img_title 2 Tahun Prabowo-Gibran, Mentan: Kesejahteraan Petani Tertinggi Sepanjang Sejarah

Potensi maladministrasi kedua adalah soal pendataan petani penerima pupuk bersubsidi yang dilakukan setiap tahun dengan proses yang lama. Sehingga berujung dengan ketidakakuratan pendataan. 

"Hal ini berdampak pada buruknya perencanaan dan kisruhnya penyaluran pupuk bersubsidi," ujarnya.

Kemudian potensi maladministrasi ketiga, adalah terbatasnya akses bagi petani untuk memperoleh pupuk bersubsidi. Serta permasalahan transparansi proses penunjukan distributor dan pengecer resmi.

Lalu yang keempat, lanjut Yeka, adalah potensi maladministrasi dari adanya mekanisme penyaluran pupuk bersubsidi, yang belum selaras dengan azas penyelenggaraan pelayanan publik dengan prinsip 6 T. Prinsip 6 T itu sendiri merupakan akronim dari prinsip Tepat Jenis, Tepat Jumlah, Tepat Harga, Tepat Tempat, Tepat Waktu, dan Tepat Mutu.

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika.

Photo :
  • M Yudha P/VIVA.co.id

Selanjutnya untuk potensi maladministrasi kelima, adalah belum efektifnya mekanisme pengawasan pada program pupuk bersubsidi. Sehingga pelaksanaannya belum tertangani secara efektif.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dan ke semua hal ini masih terjadi sehingga menyebabkan berbagai penyelewengan dan penyaluran pada program pupuk bersubsidi ini," ujarnya.

Ilustrasi limbah organik

Limbah Rumah Tangga Bisa Jadi Sumber Cuan Petani, Begini Caranya

Limbah organik rumah tangga dapat diolah menjadi pupuk dan pestisida alami untuk menekan biaya produksi pertanian sekaligus membuka peluang usaha bagi petani.

img_title
VIVA.co.id
30 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut