Ekonomi Global Berangsur Pulih, BI Ungkap Strategi Hadapi Risikonya

Gubernur BI Perry Warjiyo
Sumber :
  • Zoom meeting

VIVA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengatakan, langkah yang terkalibrasi, terencana dan komunikasi yang baik harus dilakukan untuk mengantisipasi normalisasi kebijakan moneter saat pemulihan ekonomi. Menurutnya, negara maju maupun negara berkembang harus melakukan normalisasi secara bersama-sama untuk mendukung pemulihan ekonomi global.

img_title Hashim Ramal Dolar AS Bisa Tembus Rp22.000 Gegara MSCI, Begini Respons Bos BI

"Jadi baik negara maju atau pun negara berkembang harus bersama-sama melakukan proses normalisasi (kebijakan) tersebut," kata Perry dalam telekonferensi di acara 'Seminar on Strategic Issues in G20: Exit Strategy & Scarring Effect' pada Kamis 17 Februari 2022.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Photo :
  • VIVA/Anisa Aulia

img_title Harga Minyak Tembus US$115 per Barel, Rupiah Ikut Tertekan

Perry menjelaskan, terdapat tiga hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi berbagai risiko pemulihan perekonomian global. Pertama, perlunya proses normalisasi kebijakan khususnya dari negara maju dilakukan dengan kalibrasi yang tepat, direncanakan dengan baik, dan dikomunikasikan dengan baik.

Kedua, yaitu memperkuat daya tahan negara-negara emerging market, termasuk Indonesia, agar dampak proses normalisasi proses dari negara maju tetap bisa mendukung pemulihan ekonomi domestik dan stabilitas. Di sinilah perlunya bauran kebijakan secara nasional maupun bauran kebijakan dari bank sentral.

img_title Dolar AS Nyaris Tembus Rp18.200, BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Makin Tertekan

"Ketiga, kerja sama antara bank sentral dunia, termasuk melalui fasilitas pertukaran mata uang bilateral serta penggunaan lebih banyak local currencies pada transaksi bilateral. Seperti misalnya dengan menggunakan mata uang lokal untuk promosi perdagangan dan investasi," ujarnya.

Di tahun 2022 ini, Perry meyakini bahwa perekonomian global akan pulih dan tumbuh sekitar 4,4 persen. Di mana, sejumlah negara yang diyakini akan mengalami pemulihan ekonomi antara lain yakni Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan India. 

Hal itu seiring dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di Bank Sentral Amerika Serikat, yakni The Federal Reserve (The Fed), yang disebut-sebut akan melakukan normalisasi dan menaikkan suku bunganya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tentunya pasar bisa memahami, dan sekarang sebelum The Fed Fund Rate naik kita juga melihat kenaikan suku bunga yield, US Treasury. Dimana, hal itu sudah direfleksikan dalam perkembangan suku bunga dunia, termasuk yield SBN dan perkembangan nilai tukar," kata Perry.

Dia juga memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan bunga kebijakan sebanyak empat kali, meskipun pasar memperkirakan lima kali. Meskipun, saat itu masih terdapat risiko peningkatan COVID-19 akibat varian Omicron, serta adanya gangguan pasokan dan energi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut