Menyusuri Tambang Tembaga dan Emas Terbesar Dunia
- VIVA/Fikri Halim
Akses ke Fasilitas Dataran Rendah hingga Dataran Tinggi
Tambang bawah tanah Grasberg Block Cave.
- VIVA/Fikri Halim
VIVA berkesempatan menyusuri tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, Deep Mill Level Zone (DLMZ) dan juga Grasberg Open Pit.
Untuk menuju lokasi tersebut, memang tak bisa sembarang pengunjung masuk ke sana. Penjagaan ketat dilakukan sejak dari daerah Timika, salah satu area yang jadi wilayah operasi Freeport Indonesia. Tentu saja, salah satu alasan penjagaan ketat karena masih banyak pergolakan dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.
Jika terbang dari Jakarta, pengunjung akan mendarat di Bandara Mozes Kilangin, Timika. Bandara ini merupakan salah satu penunjang utama operasional Freeport Indonesia dan lalu lintas karyawan. Setibanya di sana, pengunjung akan menaiki kendaraan anti peluru menuju penginapan di Rimba Papua.
Bus anti peluru.
- VIVA/Fikri Halim
VIVA dan rombongan lainnya pun sempat meninjau area reklamasi di mile 21 menggunakan bus anti peluru tersebut. Area tailing di seluas 100 hektare di mile post 21 ini sudah berhasil direklamasi dan dikelola menjadi lahan perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan serta menjadi sarana pendidikan lingkungan dan konservasi.Â
"Area Tailing, Mile Post 21, itu jika liat dari atas, ada peternakan sapi, ada sagu, ada ikan. Ada lebih dari 500 spesies yang tumbuh dan ini double, sudah lebih dari 1.000 spesies baru yang tumbuh. Berarti ekosistem yang ada di daerah itu terjaga dengan baik. dan berkembang dengan baik sesuai kebutuhan ekosistem itu sendiri," kata Tony Wenas.
![]()
Secara total, Tony menjelaskan, seluruh area tailing di PTFI luasnya mencapai 23 ribu hektare. Nantinya setelah operasi tambang selesai, akan dilakukan reklamasi dan penutupan tambang.
"(Daerah tambang) itu akan menjadi seperti ini (mile post 21) lagi kira-kira sekitar waktu 10 tahun. apalagi ditambah dengan bantuan manusia. Ini contoh kawasan Mile post 21 tahun 1996, kita lihat ini 2016, jauh sekali berbeda (kembali jadi tanah subur)," katanya.
Dijelaskannya, area tailing menjadi kembali seperti betul-betul hutan seperti semula butuh waktu sekitar 18 tahun. Bahkan tanaman dan pohon buah-buahan yang tumbuh di atasnya, tetap bisa dimakan dengan aman. Ada buah pisang, nanas, hingga semangka yang bisa tumbuh di lokasi tersebut.