5 Negara yang Punya Utang Paling Besar ke China

Ilustrasi utang.
Sumber :
  • Pixabay

Jakarta – Puluhan negara berjuang dengan ketidakstabilan ekonomi yang dipicu oleh utang luar negeri yang mencapai ratusan miliar dolar, sebagian besar berasal dari China, yang merupakan pemberi pinjaman pemerintah terkemuka di dunia.

Pemerintah Daerah China Terpaksa Beli Rumah di Tengah Krisis Ekonomi

Mayoritas peminjam utama berasal dari Afrika, meskipun ada juga di kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Pasifik.

"Sebagai pemberi pinjaman pilihan baru bagi negara-negara berpenghasilan rendah, China memiliki 37% utang negara-negara tersebut pada tahun 2020," kata World Bank (Bank Dunia) yang dianalisis oleh Statista pada 2023 lalu.

Israel Serang Rafah, Sri Mulyani Sebut Picu Dampak dan Dinamika Luar Biasa

Ilustrasi peningkatan utang pemerintah Indonesia.

Photo :
  • Halomoney

"Hanya 24% utang bilateral negara-negara tersebut berasal dari negara-negara lain di dunia pada tahun itu," tambahnya.

BCA Fasilitasi UMKM dengan Workshop hingga Sertifikasi Halal Gratis

Proyek infrastruktur China, yang dikenal dengan sebutan Belt and Road, telah mendanai pembangunan pelabuhan, jalur kereta api, dan infrastruktur darat di berbagai negara di seluruh dunia.

Meskipun ada 98 negara yang berutang menurut data 2023, beberapa di antaranya memiliki utang yang sangat besar.

Lantas negara mana saja yang punya utang terbanyak ke China?

Ilustrasi utang.

Photo :
  • Pixabay/Stevepb

Menurut data Bank Dunia yang dianalisis oleh Statista, negara-negara yang memiliki utang besar ke China sebagian besar berlokasi di Afrika. Namun ada juga negara Asia Tengah, Asia Tenggara, dan Asia Pasifik.

Pinjaman China memiliki tingkat bunga yang lebih tinggi dan jangka waktu pembayaran yang lebih pendek dibandingkan pinjaman dari lembaga internasional seperti Dana Moneter Internasional atau Bank Dunia.

  1. Pakistan memiliki US$27,4 miliar (Rp427 triliun)
  2. Angola US$22,0 miliar (Rp343 triliun)
  3. Ethiopia US$7,4 miliar (Rp115 triliun)
  4. Kenya US$7,4 miliar (Rp115 triliun)
  5. Sri Lanka US$7,2 miliar (Rp112 triliun)
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya