Pertamina Pendopo Field Raih Proper Emas Berkat Pinang Gemilang
- Dok Pertamina
Dari kisah suaminya, Har mencoba membuat makanan dari pinang. Awalnya ia membuat bandrek (minuman) dengan menambahkan pinang. Rupanya bandrek ini diminati sehingga desa ini terkenal dengan bandrek pinangnya.
Kemudian merambah ke pembuatan kopi pinang dan pinang herbal. Selanjutnya ide-ide makanan dari pinang terus berkembang. Pertamina mendampingi KWT Melati dengan Program Gerakan Perempuan Lestarikan Alam Melalui Konservasi Pinang (GEMILANG).
"Kami akhirnya tidak lagi menjual buah pinang mentah dan kami pakai buat bahan baku. Kami juga tidak lagi menebang pinang untuk tujuh belasan," ujar Har.
Tak hanya itu, tandan buah pinang bisa dijadikan agunan untuk meminjam uang. Misalnya sedang butuh yang, masyarakat bisa pinjam ke KWT dengan jaminan pinang.
Usaha pengolahan pinang memberi penghasilan bagi KWT Melati. Awalnya hanya 5 orang, anggotanya berkembang menjadi 60 orang. Pendapatan KWT Melati mencapai Rp 100 juta/bulan.
Setelah kebutuhan buah pinang meningkat, para perempuan ini pun mulai menambah pohon pinang. Mereka menanam pinang dari buah yang disemai.
"Kami mendampingi KWT Melati mulai dari pengemasan produk hingga bantuan bibit," tambah Erwinton.
Namun untuk mendapatkan Proper Emas, peningkatan pendapatan saja tidak cukup. Harus ada inovasi. Kuncinya justru pada pelepah yang menjadi sampah.
Prestasi Pinang Gemilang
Ketika buah pinang sudah menjadi komoditas, pelepah yang dihasilkan masih menjadi sampah. Dari sinilah, Pertamina mendampingi untuk pemanfaatan pelepah ini bekerjasama dengan Plepah.id. Konsepnya, mengubah pelepah jadi berkah.
Pelepah dikumpulkan untuk membuat piring sekali pakai pengganti styrofoam. Bahan styrofoam sulit terurai sehingga menjadi masalah sampah yang mengotori lingkungan. Satu batang pinang bisa menggantikan 90.000 styrofoam/tahun dan mereduksi 4.500 kg CO2 eq.
Pertamina memberikan bantuan berupa mesin untuk mengubah pelepah menjadi piring sekali pakai. Selain itu memberikan pelatihan KWT Melati hingga berhasil memproduksi piring ini.
Inovasi pembuatan piring dari pelepah pinang bukan hanya mengurangi sampah, namun juga akan memotivasi masyarakat menanam pinang lebih banyak. Hal ini akan meningkatkan penyerapan karbon dari tanaman pinang.
Perlu diketahui, masyarakat menanam pinang ini tidak monokultur. Pinang ditanam di pinggir jalan desa, pinggir ladang, maupun di pinggir danau sebagai penahan erosi. Sistem penanaman seperti ini memberikan dampak positif bagi lingkungan.