The Fed Pertahankan Suku Bunga, Waspadai Dua Risiko bagi Ekonomi AS

Gubernur Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell
Sumber :
  • Twitter.com/@federalreserve

Washington, VIVA - Federal Reserve Amerika Serikat (AS) alias The Fed mengumumkan tidak mengubah suku bunga acuan. Setelah pertemuan pada Rabu, 7 Mei 2025, The Fed menyampaikan masih mencermati arah kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump dan menilai dampaknya terhadap ekonomi yang sedang lesu.

img_title Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.948 per Dolar AS, Inflasi AS Jadi Pemicu

Keputusan tersebut sudah diprediksi banyak pihak sehingga tidak mengangetkan para pelaku pasar. Saat ini, suku bunga pinjaman acuan berada di level 4,25 persen sampai 4,5 persen yang berlaku sejak Desember 2024.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam keterangan tertulis, The Fed menyampaikan keputusan diambil mengingat gelombang ketidakpastian yang melanda lanskap politik dan ekonomi. Pertemuan juga mengamati volatilitas pasar seiring kekhawatiran akan ketidakpastian prospek ekonomi semakin meningkat.

img_title Inflasi RI Naik jadi 3,28%, Mendagri Tito Minta Pemda Perkuat Pengendalian: Jangan Sampai Tembus 3,5%

"The Fed memperhatikan risiko bagi kedua belah pihak dalam mandat gandanya dan menilai bahwa risiko pengangguran yang lebih tinggi dan inflasi yang lebih tinggi telah meningkat," demikian penjelasan The Fed dikutip dari CNBC Internasional pada Kamis, 8 Mei 2025.

Ilustrasi berinvestasi.

Photo :
  • http://pakar-investasi.blogspot.com/

img_title Rupiah Menguat ke Rp17.871, The Fed Bawa Angin Segar untuk Pasar

Kepala Kebijakan Global dan Strategi di Evercore ISI, Krishna Guha, menyinggung pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) pada bulan Mei yang memperingatkan guncangan perdagangan besar masih akan menghantam ekonomi. Hal ini sangat mungkin terjadi meskipun ada upaya dari Trump untuk meredakan ketegangan global.

"The Fed melihat risiko ke depan sebagai dua sisi dan tidak memberikan kecenderungan dovish awal yang mendukung pemotongan suku bunga pada bulan Juni. Implikasi bersihnya untuk aset berisiko bersifat negatif," jelas Guha.

Pernyataan tarif impor yang berpotensi memperparah inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi mirip dengan kemungkinan skenario stagflasi yang terakhir terjadi di AS pada awal tahun 1980-an. Mayoritas stakeholder sepakat bahwa bank sentral berada dalam posisi yang baik.

Oleh karena itu, menahan suku buka jadi pilihan bijak di tengah perekonomian yang secara umum baik dan sedikit bersabar ketika mengkalibrasi kebijakan moneter.

"Perekonomian sendiri masih dalam kondisi solid,” tegas Ketua The Fed Jerome Powell.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Inflasi telah menurun dan mendekati target Fed sebesar 2 persen namun tarif diperkirakan akan mengakibatkan kenaikan harga setidaknya satu kali. Trump sempat memaksa The Fed untuk memangkas suku bunga karena inflasi telah mereda. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut