Rupiah Perkasa ke Rp17.866 per Dolar AS, Ada Kabar Baik dari The Fed

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Sumber :
  • Pixabay/IqbalStock

Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (7/10/2026). Penguatan terjadi setelah rupiah pada perdagangan sehari sebelumnya juga ditutup positif di tengah sentimen pasar yang menilai peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) semakin mengecil.

img_title IHSG Berbalik Arah, Sempat Menguat 1% Kini Ambruk 0,75% ke Level 6.200-an

Mengutip data perdagangan pada Rabu pagi, rupiah menguat 33 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.866 per dolar AS. Posisi tersebut dibandingkan dengan penutupan perdagangan Selasa yang berada di level Rp17.899 per dolar AS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penguatan rupiah tidak terlepas dari perkembangan ekonomi Amerika Serikat, terutama data ketenagakerjaan dan inflasi yang dinilai mengurangi kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 27 sampai 28 Oktober mendatang.

img_title IHSG Menguat 1,21% ke 6.192,9, Transaksi Saham Tembus Rp12,35 Triliun

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, sebelumnya menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi AS membuat peluang kenaikan suku bunga semakin kecil.

“Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (6/10/2026). 

img_title Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Perang Yaman hingga The Fed Jadi Penentu

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah Personal Consumption Expenditures (PCE). PCE Price Index tercatat berada di level 3,4 persen secara tahunan pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan konsensus sebesar 3,7 persen.

Sementara itu, data nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat menunjukkan penambahan 29 ribu lapangan kerja pada September. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan pasar. Tingkat pengangguran juga naik menjadi 4,2 persen pada September 2026 dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pertumbuhan lapangan kerja pada September tersebut juga lebih rendah dibandingkan kenaikan 133 ribu lapangan kerja pada Agustus. Para ekonom yang disurvei Reuters dan The Wall Street Journal sebelumnya memperkirakan kenaikan payroll berada di kisaran 84 ribu hingga 90 ribu pada September.

Data ketenagakerjaan AS juga mengalami revisi. Total lapangan kerja NFP pada Juli direvisi dari kenaikan 21 ribu menjadi penurunan 10 ribu. Sementara itu, angka Agustus direvisi turun 29 ribu dari 162 ribu menjadi 133 ribu. Dengan demikian, total revisi penurunan lapangan kerja sektor nonpertanian untuk dua bulan sebelumnya mencapai 60 ribu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut