Rupiah Perkasa ke Rp17.866 per Dolar AS, Ada Kabar Baik dari The Fed

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Sumber :
  • Pixabay/IqbalStock

Pergerakan rupiah selanjutnya akan turut dipengaruhi sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat. Ibrahim mengatakan pasar saat ini menunggu risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September serta data klaim awal tunjangan pengangguran.

img_title Rupiah Menguat Tipis, Rencana BEI Singkirkan 80 Saham HSC dari IHSG Jadi Sorotan

“Saat ini, pasar menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September pada Rabu (7/10) serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis (8/10),” ungkap Ibrahim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan sejumlah indikator tersebut, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga kebijakannya pada Oktober disebut telah melampaui 80 persen. Sementara itu, kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember mencapai 95 persen.

img_title Rupiah Menguat ke Rp18.015 per Dolar AS, Pasar Masih Cermati Arah Suku Bunga The Fed

Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari proyeksi Bank Dunia yang menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2 persen. Proyeksi tersebut naik 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya.

“Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen Ramadhan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal,” kata dia.

img_title Rupiah Kembali Loyo, Isu MSCI hingga Harga Minyak Jadi Beban

Meski demikian, Bank Dunia juga menyoroti pelemahan aktivitas ekonomi domestik setelah periode tersebut. Kondisi itu terlihat dari indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur yang turun menjadi 49,3 pada Agustus dan tingkat kepercayaan konsumen yang melemah menjadi 116,8 pada Juli.

Pelebaran defisit juga menjadi perhatian pasar karena dapat memicu kekhawatiran terkait kondisi fiskal dan peringkat utang negara. Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 1,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, tingkat inflasi diperkirakan tetap berada di sekitar batas atas rentang target Bank Indonesia (BI) dan pemerintah, yaitu 2,5±1 persen.

Selain rupiah di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu juga bergerak menguat. JISDOR berada di level Rp17.910 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.917 per dolar AS. (Ant)

Ilustrasi rupiah

Rupiah Melemah ke Rp18.140 per Dolar AS, Harga Minyak dan Risiko Fiskal Jadi Sorotan

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (27/10/2026). Rupiah turun 5 poin atau 0,03 persen.

img_title
VIVA.co.id
27 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut