Peringkat Daya Saing RI Anjlok, Ekonom Soroti Ini

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

Jakarta, VIVA – Indonesia mengalami penurunan daya saing sebesar 13 peringkat pada tahun ini. Saat ini daya saing Indonesia ada di posisi 40, dari 69 negara di dunia.

img_title Prabowo Optimistis Efek Ekonomi Kopdes Merah Putih Mulai Terasa di 2027, Potong Alur Distribusi

Ekonom Center on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, turunnya peringkat daya saing Indonesia merupakan sinyal serius bagi pemerintah. Sebab, peringkat tersebut mencerminkan persepsi global terhadap efektivitas kebijakan ekonomi, dan kesiapan Indonesia bersaing di tingkat internasional. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Penurunan peringkat Indonesia dari 27 ke 40 tentu merupakan sinyal yang sangat serius. Ini bukan sekadar angka, ini mencerminkan persepsi global terhadap efektivitas kebijakan ekonomi dan kesiapan kita dalam bersaing di tingkat internasional," ujar Yusuf saat dihubungi VIVA Jumat, 20 Juni 2025.

img_title Purbaya Kena Reshuffle, Demokrat: Langkah Tepat, Ekonomi Kita Memang Alami Ketidakpercayaan Market

Yusuf mengatakan, dari sudut pandang investor, peringkat ini adalah indikator penting. Karena ketika daya saing Indonesia terlihat menurun maka kepastian hukum, kualitas regulasi, hingga efisiensi birokrasi menjadi pertanyaan.

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Photo :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

img_title Dorong Potensi Music Tourism & Ekonomi Kreatif, Pemprov DKI Dukung YE Live In Jakarta 2026

"Ketika daya saing kita terlihat menurun, maka pertanyaan soal kepastian hukum, kualitas regulasi, efisiensi birokrasi, hingga konsistensi arah kebijakan pun mulai muncul. Dan di tengah persaingan regional yang ketat, persepsi seperti ini bisa langsung berdampak pada arus investasi," jelasnya.

Selain itu, Yusuf memandag bahwa penurunan peringkat juga mencerminkan tantangan struktural yang belum terselesaikan. Menurutnya, memang terdapat kemajuan infrastruktur dan digitalisasi, namun implementasinya sering kali tidak merata dan lambat. Dia pun membandingkan negara-negara tetangga Indonesia.

"Negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, bahkan Vietnam, saat ini jauh lebih progresif dalam mendorong transformasi digital, pengembangan energi hijau, dan efisiensi layanan publik," terangnya.

Sedangkan Indonesia jelas Yusuf, saat ini masih berkutat pada masalah regulasi yang tumpang tindih, lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) digital, dan lambatnya transisi menuju ekonomi hijau. 

"Jadi, bisa dikatakan bahwa dalam beberapa aspek penting, kita memang mulai tertinggal," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Maka dari itu, Yusuf menilai bahwa pemerintah perlu bertindak cepat dan terukur guna memperbaiki peringkat daya saing. Menurutnya, dalam jangka pendek fokus utama pembenahan adalah regulasi dan tata kelola. 

"Proses perizinan harus disederhanakan, koordinasi antar-lembaga diperkuat, dan digitalisasi layanan publik ditingkatkan tidak hanya secara teknis, tapi juga dalam hal efisiensi proses," terangnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut